Comscore Tracker

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong Tiku

Semuanya berjuang melawan penjajahan tanpa pamrih

Makassar, IDN Times - Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan, serta jadi momentum masyarakat untuk kembali mengenang jasa para penggerak perlawanan melawan penjajahan. Selain itu, setiap tahun ada upacara pemberian gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia.

Dimulai sejak 1959, sudah ada 195 sosok yang mendapat gelar kehormatan tersebut. Semuanya datang dari beragam latar belakang. Mulai dari politikus, bangsawan, pemuka agama hingga tentara.

Dari Sulawesi Selatan (Sulsel) sendiri, total ada 11 tokoh yang berstatus Pahlawan Nasional. Berikut IDN Times menyajikan kisah singkat perjuangan mereka seperti dihimpun dari berbagai sumber.

1. Sultan Hasanuddin, pemimpin Gowa nan kharismatik

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan wajah Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan dan Sultan Gowa XVI, Sultan Hasanuddin, dalam prangko Indonesia terbitan tahun 2006. (Wikimedia Commons/WNSStamps.ch)

Sultan Hasanuddin jadi pejuang pertama Sulsel yang diberi gelar Pahlawan Nasional, tepatnya pada 6 November 1973. Pemilik nama asli  I Mallombasi Daeng Mattawang itu lahir di Makassar pada 12 Januari 1631. Ia adalah anak kandung sekaligus pewaris tahta Raja Gowa ke-15 yakni Sultan Malikussaid.

Selama masa kekuasaannya, dari 1653 hingga 1669, Gowa terlibat dalam salah satu konflik terbesar yang dialami VOC yakni Perang Makassar (1666-1669). Meski kalah dari sisi persenjataan, Sultan Hasanuddin tetap memimpin pertempuran dengan mati-matian.

Meski Perjanjian Bongaya sempat diteken pada 1667, VOC kembali menyerang Gowa pada Maret 1668. Konflik berakhir di tanggal 24 Juni 1669, setelah Istana Somba Opu direbut Kompeni. Sultan Hasanuddin wafat pada 12 Juni 1670, di usia 39 tahun, akibat penyakit beri-beri.

2. Syekh Yusuf, ulama yang mengangkat senjata

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Syekh Yusuf Al-Makassari, figur ulama berpengaruh asal Gowa-Tallo dan pemimpin pasukan kubu Sultan Ageng Tirtayasa di Perang Saudara Banten (1682-1683), dalam prangko Afrika Selatan terbitan tahun 2011. (Universal Postal Union)

Sulsel harus menunggu selama 22 tahun sebelum pejuang Sulsel kembali mendapat gelar Pahlawan Nasional. Pada 7 Agustus 1995, Presiden Soeharto menyematkan status itu pada Syekh Yusuf, pemuka agama kelahiran Parangloe, 3 Juli 1626.

Mulai merantau menimba ilmu agama di usia muda, sosok bergelar Tuanta Salamaka ri Gowa itu menjadi mufti di Kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayaasa. Perannya kian terasa saat memimpin perlawanan rakyat Banten melawan VOC dalam Perang Saudara Banten (1680-1683).

Namun, faksi Sultan Ageng yang ia dukung pada akhirnya takluk. Syekh Yusuf ditangkap VOC pada Maret 1683. Sempat ditawan di Batavia, ia bersama keluarga dan pengikutnya dibuang ke Sri Lanka setahun setelah ditangkap. Satu dekade lewat, ia kembali diasingkan ke Zandvliet, Afrika Selatan, pada 1694. Syekh Yusuf wafat di kota kecil dekat Cape Town itu di tahun 1699.

3. La Maddukelleng, perantau sekaligus pejuang Wajo

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan La Maddukelleng, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Pada 6 November 1998, Presiden BJ Habibie menetapkan La Maddukelleng sebagai Pahlawan Nasional. Ia lahir di Wajo, Sulsel, dari kalangan bangsawan pada 1700. Hasil Perang Makassar membuat banyak petinggi Kerajaan Wajo memutuskan minggat atau mengembara. Demikian juga La Maddukelleng yang menyeberang ke Kalimantan Timur, tepatnya menuju Kesultanan Paser, pada dekade 1720-an.

Di sana, ia menjadi figur politik penting dalam waktu singkat. La Maddukelleng bahkan memimpin faksi suku Bugis, Pasir, Kutai, Makassar serta Bugis-Pagatan untuk angkat senjaya melawan Kompeni.

Dekade 1730-an, ia pulang kampung memenuhi perintah Arung Matoa (Penguasa Wajo) La Salewangang. La Maddukelleng diminta membebaskan wilayah Wajo dari cengkeraman penjajahan Bone dan mengusir VOC. Faksi Kompeni pimpinan Hendrik Smout dan tentara Wajo dengan La Maddukelleng sebagai pentolannya terlibat konfrontasi pada Febuari 1741. Pertempuran berlangsung alot selama beberapa bulan, tapi BOC akhirnya bisa dipukul mundur.

4. Ranggong Daeng Romo, panglima yang disegani para gerilyawan

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Ranggong Daeng Romo, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Nama Ranggong Daeng Romo sulit dipisahkan dari gerakan gerilya di Sulsel selama masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1949). Bersama Emmy Saelan, Ali Malaka dan Wolter Mongisidi, ia menadi bagian dari gerakan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (Lapris). Sosok kelahiran Polongbangkeng (Takalar) tahun 1915 itu diangkat sebagai panglima untuk lebih dari 500 pejuang.

Saat kecil, Ranggong Daeng Romo menimba ilmu di salah satu pesantren daerah Cikoang. Beranjak remaja, ia ke Makassar sebagai siswa Hollandsch Indisch School serta Taman Siswa. Saat Jepang menduduki Nusantara, Daeng Romo bekerja sebagai pegawai untuk rezim militer Jepang dalam urusan pertanian.

Kembalinya Belanda usai kemerdekaan Indonesia disikapi Daeng Romo dengan menyingkir ke hutan untuk bergerilya. Ia gugur pada 27 Februari 1947, saat memimpin gerilyawan Lapris menyerang tangsi militer Belana di selatan Makassar. Daenh Romo mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 3 November 2001.

5. Andi Djemma, pengobar api perjuangan rakyat Luwu

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Andi Djemma, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Sulit memisahkan riwayat perjuangan di Tanah Luwu dengan Andi Djemma. Datu' Luwu ke-34 itu lahir di Palopo pada 15 Januari 1901. Ia memerintah sebanyak dua kali, yakni pada 1935-1946 dan 1950-1965.

Di masa kolonial Belanda, Andi Djemma aktif menyebarkan pesan pergerakan nasional dengan menjadi anggota Nahdlatul Ulama. Saat berkuasa, ia mengizinkan Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan Muhammadiyah berdiri di Luwu.

Ia jadi salah satu dari beberapa raja Nusantara pertama yang berikrar sumpah setia pada Republik Indonesia. Andi Djemma juga jadi tokoh sentral dalam Perlawanan Semesta Rakyat Luwu tanggal 23 Januari 1946, di mana rakyat dan pejuang serempak menyerang tangsi-tangsi tentara NICA-Belanda. Ia ditangkap pada Juli 1946, dan baru dibebaskan tahun 1950, sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) Den Haag. Pasca-bebas, ia kembali didapuk sebagai Datu' Luwu hingga akhir hayatnya. Andi Djemma diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2002.

6. Pong Tiku, sosok yang dihormati rakyat Toraja

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Pong Tiku, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Masyarakat Toraja mengenal figur Pong Tiku sebagai figur pejuang. Figur yang oleh orang Bugis disebut sebagai Ne' Baso itu lahir di Rantepao, 1846. Ayahnya adalah seorang panglima perang dan bangsawan wilayah Pangala' bernama Siambe' Karaeng, sedang sang ibu adalah Lai' Lebok.

Saat sang ayah wafat, Pong Tiku menjadi penguasa Pangala'. Ia membawa ekonomi daerah tersebut meningkat berkat perdagangan kopi, sembari memperkuat benteng-benteng pertahanan. Untuk membendung ekspedisi militer Hindia-Belanda di Sulsel pada awal abad ke-20, ia menjalin persekutuan dengan kerajaan-kerajaan Bugis.

Selama dua tahun (1905-1907) Pong Tiku memimpin perlawanan, berpindah satu tempat ke tempat lain. Batavia mengira ekspedisi penaklukan di Toraja hanya memakan waktu hitungan bulan. Geram, Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz memerintahkan agar Pong Tiku ditangkap hidup atau mati. Pada akhirnya, perjuangan rakyat Toraja dipatahkan. Ia tertangkap pada 30 Juni 1907, dan dieksusi mati di tepi Sungai Sa'dan tanggal 10 Juli 1907. Pong Tiku diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2002.

7. Andi Mappanyukki, Arumpone yang anti-kompromi

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Andi Mappanyukki, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Selanjutnya ada Andi Mappanyukki, Arumpone (Raja Bone) ke-32 yang lahir di Bone pada 1885. Ia adalah anak putra Raja Gowa ke-34 yaitu I'Makkulau Daeng Serang Karaengta Lembang Parang Sultan Husain Tu Ilang ri Bundu'na. Sedangkan sang ibu, I Cella We'tenripadang Arung Alita, adalah putri tertua dari La Parenrengi Arungpugi Sultan Ahmad Muhiddin, Arumpone ke-27 (memerintah 1845-1857).

Sebuah riwayat menyebut bahwa Andi Mappanyukki muda turut serta sebagai prajurit dalam upaya Gowa memukul mundur tentara KNIL pada ekspedisi mereka di tahun 1905. Pengalaman tersebut memupuk sikapnya yang tak ingin berkompromi dengan penjajah.

Andi Mappanyukki, bersama Datu' Luwu Andi Djemma dan para bangsawan Sulsel lain, menyatakan ikrar sumpah setia pada Republik Indonesia melalui Deklarasi Jongaya pada 15 Oktober 1945. Setelah Andi Djemma ditangkap, sikap anti-kompromi terhadap NICA-Belanda membuat Andi Mappanyukki "dicopot" sebagai Arumpone pada 1947. Ia diasingkan ke Rantepao, Tana Toraja.

Setelah Belanda minggat pasca-KMB, Andi Mappanyukki kembali ke tampuk kekuasaan. Ia bahkan sempat menjadi Bupati Bone ke-4 (1957-1960) dengan tetap menjabat sebagai Arumpone. Ia wafat di Makassar tanggal 18 April 1967, di usia 79. Andi Mappanyukki mendapat gelar Pahlawan Nasional pada 5 November 2004.

8. Andi Abdullah Bau Massepe, gugur dalam operasi militer Westerling

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Andi Abdullah Bau Massepe, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Datu' Suppa ke-25 ini adalah anak dari Andi Mappanyukki dari pernikahan dengan Besse Arung Bulo. Lahir di Massepe, Sidenreng Rappang, pada tahun 1918, Bau Massepe kecil mengenyam pendidikan di Makassar sebagai siswa Sekolah Rakyat pada 1924, sebelum lanjut ke HIS (Hollandsch Inlandersch School (1925-1932).

Pada masa pendudukan Jepang, ia aktif membina organisasi pemuda dan pergerakan. Bau Massepe waktu itu menjabat sebagai Ketua Bunken Kanrekan dan Ketua Organisasi SUDARA afdeling Pare-Pare. Setelah Indonesia merdeka, ia terjun ke militer sebagai Panglima Pertama TRI Divisi Hasanuddin dengan pangkat Letnan Jenderal.

Namun, lantaran aktif mengobar perlawanan melawan kembalinya NICA-Belanda di hadapan rakyat, ia dicap sebagai orang berbahaya. Bau Massepe gugur pada 2 Februari 1947, setelah tertangkap dan dieksekusi regu Depot Speciale Tropen pimpinan Kapten Raymond Westerling. Andi Abdullah Bau Massepe diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 7 November 2005.

Baca Juga: Mengenal Emmy Saelan, Perawat Paling Revolusioner di Palagan Gerilya

9. Opu Daeng Risadju, perempuan pemberani asal Palopo

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Opu Daeng Risadju, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Selain Andi Djemma, tokoh sentral dalam perjuangan rakyat Luwu adalah Opu Daeng Risadju. Ia lahir di Palopo tahun 1880, dari pasangan bangsawan Muhammad Abdullah To Baresseng dan Opu Daeng Mawellu. Perempuan pemilik nama asli Famajjah ini aktif menyuarakan penentangan terhadap kolonialisme sepanjang dekade 1939-an, melalui corong Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII). Aktivisme Daeng Risadju membuatnya dijebloskan ke penjara oleh polisi Hindia-Belanda selama 13 bulan.

Penentangan juga datang dari para petinggi Kerajaan Luwu dan Dewan Adat yang tak suka dengan aktivitasnya. Alhasil, gelar kebangsawanannya dicopot. Usai Indonesia merdeka, Daeng Risadju kembali terjun di medan perlawanan meski usianya sudah uzur. Ia juga menjadi tokoh penting dalam Perlawanan Semesta Rakyat Luwu tanggal 23 Januari 1946.

Nahas, ia tertangkap. Sebagai hukuman, Daeng Risadju dipaksa berjalan kaki sejauh 40 kilometer. Siksaan fisik tersebut membuatnya tuli hingga akhir hayatnya. Diterungku tanpa pengadilan selama berbulan-bulan, ia baru dibebaskan selepas KMB 1949. Ia wafat di usia 84 tahun pada 10 Februari 1964. Opu Daeng Risadju mendapat gelar Pahlawan Nasional tanggal 3 November 2006.

Baca Juga: Kisah Fatimah, Perempuan Pejuang Putri Sultan Hasanudin

10. Padjonga Daeng Ngalle, bangsawan Takalar di belakarang Lapris

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Padjonga Daeng Ngalle, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Jasa Padjonga Daeng Ngalle juga amat besar bagi perjuangan rakyat Takalar. Lahir di Polongbangkeng pada 1901, Daeng Ngalle juga ikut berikrar sumpah setia pada Republik Indonesia dalam para bangsawan Sulsel lain, menyatakan ikrar sumpah setia dalam Deklarasi Jongaya pada 15 Oktober 1945.

Saat NICA-Belanda masuk ke Sulsel, Daeng Ngalle mengizinkan hutan di wilayah kekuasannya sebagai tempat gerilyawan Lapris mendirikan pusat aktivitas. Tak sampai di situ, ia termasuk aktif dalam perjuangan gerilyawan. Mulai dari mengorganisir setiap penyerangan hingga memberi informasi terkait aktivitas tentara musuh di wilayah Takalar dan Makassar.

Pajonga Daeng Ngalle wafat pada 23 Februari 1953. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 3 November 2006.

11. Andi Sultan Daeng Radja, bangsawan Bulukumba anti-penjajahan

Kisah 11 Pahlawan Nasional Asal Sulsel, dari Hasanuddin ke Pong TikuLukisan Andi Sultan Daeng Radja, salah satu Pahlawan Nasional asal Sulawesi Selatan (Dok. Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, Kesetiakawanan dan Restorasi Sosial Kementerian Sosial)

Terakhir adalah Andi Sultan Daeng Radja yang lahir di Desa Matekko, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, pada 20 Mei 1894. Ia adalah putra pertama pasangan bangsawan Passari Petta Tanra Karaeng Gantarang dan Andi Ninong.

Sejak remaja, Daeng Radja mulai aktif dalam organisasi pergerakan. Salah satu catatan menyebut bahwa ia juga mengikuti Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928. Padahal saat itu Daeng Radja tercatat sebagai salah satu pegawai Hindia-Belanda. Tahun 1930, ia dipercaya menduduki posisi Jaksa pada Landraad Bulukumba. Selain itu, Daeng Radja juga aktif dalam organisasi pergerakan seperti Muhammadiyah, Serikat Dagang Islam dan Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia (PPNI).

Ia menjadi saksi perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, menyaksikan langsung Soekarno membacakannya, serta ikut dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Administrasi NICA-Belanda coba kembali mengajaknya bekerja sama, tapi ditolak mentah-mentah. Alhasil, Daeng Radja diringkus oleh NICA pada Desember 1945. Sempat dipenjara di Makassar, ia kemudian diasingkan ke Manado di akhir tahun 1949.

Bebas setelah KMB, Daeng Radja berkarier di bidang pemerintahan sipil. Jabatan yang ia emban antara lain Bupati Bantaeng, residen diperbantukan untum Gubernur Sulsel hingga anggota Konsituante. Wafat di Makassar pada 17 Mei 1963, Daeng Radja diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 085/TK/Tahun 2006 tertanggal 3 November 2006.

Baca Juga: Para Pejuang Perempuan Sulsel di Garis Depan Medan Tempur

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya