Comscore Tracker

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47

Topik yang hingga sekarang masih dianggap tabu di Belanda

Makassar, IDN Times - Desember 1946 hingga Februari 1947 dikenal sebagai masa kelam bagi Indonesia, serta topik tabu di Belanda. Selama tiga bulan, unit khusus Depot Speciale Tropen (DST) pimpinan Kapten Raymond Westerling beroperasi di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Selama bergerak dalam rimba Sulsel, korban berjatuhan. Dalam narasi Westerling sendiri, mereka yang tewas adalah "teroris pengganggu ketenteraman di masa serba kacau balau." Sedang bagi para saksi hidup, mereka yang kehilangan nyawa adalah ayah, anak, paman, teman hingga saudara yang tak tahu menahu aktivitas pejuang.

Namun, jarang foto-foto dari operasi DST tersebut bisa dlihat oleh pembaca di Indonesia. Oleh karena itu pada Agustus lalu, IDN Times telah diberi izin oleh Netherlands Institute for Military History (Institut Sejarah Milliter Belanda) untuk memuat sejumlah dokumentasi aktivitas regu pimpinan Westerling tersebut dalam artikel.

Semua foto ini diambil oleh H.C. Kavelaars, seorang prajurit wajib militer merangkap fotografer militer Belanda, yang sebelumnya bertugas di daerah Jawa Barat.

Peringatan: Mengingat ini adalah operasi "penumpasan pemberontak", ada beberapa foto yang memperlihatkan para korban tewas.

1. Para serdadu di foto ini berasal dari Kompi 6 Infanteri XV KNIL

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Para serdadu Infanteri XV saat berpatroli di daerah Camba, Maros, pada 18 Desember 1946. (Netherlands Institute for Military History)

Dalam keterangan, disebut bahwa para serdadu di foto ini berasal dari Kompi 6 Infanteri XV KNIL. Mereka sedang berpatroli melewati sebuah kampung yang terletak di utara Camba, Maros, pada 18 Desember 1946. Terlihat di depan adalah komandan peleton, Niek Joanknecht, didampingi seorang pemandu lokal.

Sejumlah personel Infanteri XV juga ikut serta dalam operasi DST selama tiga bulan, berpatroli ke hutan-hutan sekitar Kota Makassar.

2. Pasukan Kompi 6 Infanteri XV juga membakar sejumlah rumah

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Salah satu rumah penduduk yang dibakar oleh pasukan Infanteri XV di kampung Camba, Maros, pada 18 Desember 1946. (Netherlands Institute for Military History)

Dalam patroli tanggal 18 Desember 1946 di daerah Camba, pasukan Kompi 6 Infanteri XV juga membakar sejumlah rumah. Menurut informasi yang mereka terima dari warga sekitar, rumah-rumah tersebut pernah ditinggali oleh para pejuang Republik.

3. Pada Januari 1947, serdadu Infanteri XV dan Depot Speciale Tropen tiba di Barru

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Suasana rumah pejabat Belanda dan kepala polisi di Kota Barru, yang sempat disambangi oleh pasukan Infanteri XV dan Depot Speciale Tropen, Januari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Pada Januari 1947, serdadu Infanteri XV dan Depot Speciale Tropen mendatangi daerah Sumpang Binangae, pusat kota Barru. Mereka menerima laporan bahwa sekitar 30 pejuang Republik menyerang kediaman Binnenlands Bestuur (pejabat dalam negeri) dan kepala polisi di pekan pertama Januari.

Rumah kedua pejabat tersebut, seperti yang terlihat dalam foto, diserang dengan senjata api dan granat tangan. Menurut keterangan Kavelaars, seluruh pejuang langsung ditangkap oleh tentara Belanda dan DST.

4. Terlihat lebih dari 50 mayat pejuang bergeletakan di lapangan alun-alun Kota Barru

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Tumpukan mayat yang dieksekusi oleh pasukan Infanteri XV Depot Speciale Tropen pimpinan Kapten Raymond Westerling di lapangan Kota Barru, Januari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Pada gambar ini, terlihat lebih dari 50 mayat pejuang bergeletakan di lapangan alun-alun Kota Barru. Di antaranya adalah 30 penyerang kediaman pejabat Belanda pada beberapa hari sebelumnya.

Sebanyak 27 lainnya adalah "tahanan ekstremis" yang juga dibawa dari penjara Belanda. Kemungkinan dieksekusi karena tempatnya sudah penuh. Eksekusi dilakukan pada pukul tujuh pagi oleh seorang Letnan Satu DST, setelah diberi wewenang oleh Westerling.

Seluruh jenazah dibiarkan hingga tengah hari, atas perintah komandan tentara, sebelum diambil untuk dimakamkan.

5. Rumah-rumah warga di Barru ini dibakar atas perintah Kapten Raymond Westerling.

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Salah satu rumah warga di Barru yang dibakar pasukan Infanteri XV dan Depot Speciale Tropen pimpinan Kapten Raymond Westerling, Januari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Menurut keterangan H.C. Kavelaars, rumah-rumah warga di Barru ini dibakar atas perintah Kapten Raymond Westerling. Alasannya, mereka tak melaporkan aktivitas para pejuang Republik yang terlibat penyerangan kediaman pejabat Belanda beberapa hari sebelumnya.

Si fotografer ditempatkan sebagai penembak di sisi seberang sungai untuk mencegah pengungsi menyeberang. "Itu tak akan terjadi," tulis Kavelaars.

6. Mereka menangkap seorang pria yang diduga seorang pejuang

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Para serdadu Infanteri XV berpose dengan seorang pria yang diduga sebagai pejuang Republikan yang ditangkap pada Januari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Masih di bulan Januari 1947, patroli Kompi ke-6 Infanteri XV KNIL juga berpatroli ke daerah hutan luar Kota Barru. Di foto ini, mereka menangkap seorang pria yang diduga seorang pejuang. Ia bersembunyi di celah bebatuan demi menghindari kejaran. Tapi, pria tersebut tetap diringkus. Tak dijelaskan apakah si pejuang ditahan atau langsung dieksekusi.

7. Puluhan warga laki-laki sedang duduk menunggu giliran diinterogasi

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Suasana interogasi yang dilakukan pasukan Infanteri XV dan Depot Speciale Tropen pimpinan Kapten Raymond Westerling saat menyambangi kampung Salomoni di daerah Barru, 12 Februari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Pada 12 Februari 1947, Kavelaars dan kameranya ikut serta dalam "penyergapan" unit DST di kampung Salomoni, sekitar lima kilometer tenggara Kota Barru. Dari kejauhan tampak puluhan warga laki-laki sedang duduk menunggu giliran diinterogasi. Westerling rupanya ingin mengejar dan menghentikan aktivitas para pejuang "sampai ke akar-akarnya."

8. Penduduk yang terbukti menyerang pasukan Belanda langsung dieksekusi

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Suasana interogasi yang dilakukan pasukan Infanteri XV dan Depot Speciale Tropen pimpinan Kapten Raymond Westerling saat menyambangi kampung Salomoni di daerah Barru, 12 Februari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Menurut keterangan Kavelaars, penduduk yang terbukti bersalah langsung dieksekusi. Operasi di kampung Salomoni tak dipimpin oleh Westerling selaku komando DST. Melainkan perwira lain, yang kemungkinan besar adalah Kapten Korinth.

Kampung Salomoni sendiri sudah dikepung oleh pasukan Infanteri XV dan personel DST sejak subuh, dengan seluruh penduduk laki-laki langsung digiring untuk berkumpul di tanah lapang. Metode tersebut sudah dijalankan sejak awal operasi.

9. Terlihat seorang warga sedang diikat ke pohon kelapa

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Suasana interogasi yang dilakukan pasukan Infanteri XV dan Depot Speciale Tropen pimpinan Kapten Raymond Westerling saat menyambangi kampung Salomoni di daerah Barru, 12 Februari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Kapten Korinth selaku komandan operasi ini tak terlihat dalam foto, tetapi berada di depan warga berbaju putih (kiri atas) yang sedang diinterogasi. Di pojok kanan atas, terlihat seorang warga sedang diikat ke pohon kelapa. Menurut Kavelaars, ia tewas ditembak lantaran coba melarikan diri saat ditangkap.

Total penduduk yang tewas di Salomoni mencapai 20 orang. Semuanya adalah laki-laki. Mereka dieksekusi setelah ditunjuk secara acak oleh komandan operasi.

10. Rumah warga dilempar granat

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Suasana penyergapan gubuk oleh pasukan Infanteri XV saat berpatroli di jalur Makassar - Parepare, Februari 1947. (Netherlands Institute for Military History)

Dalam foto di atas, kemungkinan besar masih sekitar Barru, Kopral Van Oss (kanan bawah) langsung merunduk setelah melempar granat ke sebuah gubuk kosong dalam sebuah patroli di bulan Februari 1947.

Baca Juga: Genangan Darah di Sepatu Lars Kapten Raymond Westerling

11. Kapten Raymond Westerling

11 Foto Bersejarah Operasi Militer Kejam Westerling di Sulsel 1946-47Kapten Raymond Westerling, seorang perwira Belanda dan pemimpin regu Depot Speciale Tropen (DST), dalam sebuah acara militer di Bandung pada 16 November 1948. (Netherlands Institute for Military Historie)

Metode keras yang dipakai Westerling ketika bertugas di Sulsel sudah ia terapkan ketika ditempatkan di Kota Medan, September 1945. Ia menceritakan secara gamblang hal tersebut dalam buku memoarnya, Challenge to Terror (1952).

"Kami menusuk kepala pemimpin kelompok Terakan (nama kelompok bandit) yang sudah dieksekusi kemudian menancapkannya tepat di tengah wilayah desa. Di bawahnya, kami menulis peringatan untuk para anggota yang lain. Jika mereka bersikukuh masih ingin berbuat kejahatan, kepala mereka akan mendapat perlakuan yang sama," tulis pria berjuluk "De Turk" tersebut.

Sejak operasi DST di Sulsel dimulai pada 10 Desember 1946, Westerling memilih menerapkan metodenya sendiri alih-alih tetap dalam koridor umum bernama Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger (Pedoman Pelaksanaan untuk Tugas di Politik dan Polisional Angkatan Darat), aturan tertulis untuk para tentara Belanda yang bertugas di Indonesia.

Saat operasi berakhir pada akhir Februari 1947, jumlah korban tewas berkisar antara 3.000 hingga 5.000 jiwa. Sejarawan Belanda, Willem IJzereef, dalam buku De Zuid-Celebes Affaire (1984) menyebut jumlah korban tewas "hanya" 1.500 orang yang terbunuh oleh unit lain KNIL tambahan, di saat DST bertanggung jawab langsung atas eksekusi sekitar 400 orang.

Belakangan, muncul klaim dari hasil investigasi pihak Indonesia bahwa jumlahnya mencapai 10 ribu, sebelum berlipat jadi 40 ribu jiwa.

Kendati angka pasti total korban tewas masih jadi perdebatan, ada satu hal yang disepakati para sejarawan Indonesia dan Belanda: banyak di antaranya tak bersalah dan tak memiliki kaitan apapun dengan gerilyawan.

IDN Times berterima kasih kepada Netherlands Institute for Military History (Nederlands Instituut voor Militaire Historie, NIMH) yang telah mengizinkan penggunaan foto-foto dalam artikel ini.

Baca Juga: Film "De Oost", Episode Kelam Sejarah Pembantaian Westerling di Sulsel

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya