Comscore Tracker

Ininnawa, Dokumenter Garapan Sineas Makassar Menang Piala Citra

Ininnawa jadi film dokumenter panjang terbaik di FFI 2022

Makassar, IDN Times - Film garapan sineas Makassar Arfan Sabran berjudul Ininnawa: An Island Calling sukses mendapatkan Piala Citra Festival Film Indonesia 2022.  Film itu ditetapkan sebagai film dokumenter panjang terbaik.

Film dengan judul lain "Rabiah and Mimi" itu diproduksi Two Island Digital dengan produser Nick Calpakdjian dan Neslo. Memuat kisah sebuah keluarga yang mengabdikan hidup mereka untuk memberikan perawatan kesehatan di pulau-pulau terpencil di Laut Flores.

Ininnawa: An Island Calling diumumkan sebagai film dokumenter terbaik lewat Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia 2022, Selasa malam (22/11/2022). Piala Citra diterima langsung sang sutradara Arfan Sabran.

"Terima kasih untuk FFI, untuk Kemendikbud, PPI, dan ADN (Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN), dan semua insan film Indonesia yang terus berupaya bangkit setelah pandemi ini," kata Arfan di podium, dikutip dari siaran di kanal YouTube Festival Film Indonesia, Rabu (23/11/2022).

Baca Juga: Daftar Lengkap Pemenang Festival Film Indonesia (FFI) 2022

1. Mengangkat kisah tenaga kesehatan di pulau-pulau terpencil

Film Ininnawa: And Island Calling mengangkat kisah ibu dan anak, sama-sama tenaga kesehatan. Mereka bertugas di pulau terpencil di tengah Laut Flores.

Ininnawa, kata Arfan, diambil dafi sebuah falsafah bugis yang berarti bekerja setulus hati untuk hal-hal baik. Falsafah yang tergambar dari dua karakter dalam film.

"Piala ini saya dedikasikan untuk semua pengabdi di pelosok-pelosok kita, terutama untuk para guru dan para nakes yang sudah berjuang terutama melewati pandemi," ucap Arfan.

2. Arfan mengikuti kisah Ibu Rabiah dan dua generasi di bawahnya

Ininnawa, Dokumenter Garapan Sineas Makassar Menang Piala CitraArfan Sabran menerima Piala Citra Festival Film Indonesia (2022) untuk film dokumenter panjang terbaik lewat karyanya, Ininnawa: An Island Calling (YouTube/Festival Film Indonesia)

Dikutip dari laman blog pribadi Arfan Sabran, film Ininnawa: An Island Calling mengeksplorasi kisah sebuah keluarga yang mengabdikan hidup. Mereka memberikan perawatan kesehatan di pulau-pulau terpencil di Laut Flores.

Film ini menunjukkan perjalanan dua karakter utama, Rabiah dan Mimi, ibu dan anak, yang berprofesi sebagai suster. Film sekaligus menggambarkan bagaimana kesulitan di negara kepulauan terbesar di dunia dalam memberikan perawatan kesehatan memadai bagi masyarakatnya.

Mimi adalah ibu dua anak yang hingga saat ini meninggalkan anak pertamanya bersekolah di kota dan bersama anak bungsunya bekerja di pulau. Suaminya Hasri juga rela berpisah dari keluarganya untuk mengejar panggilannya dan bekerja di pulau tetangga.

Sekarang, saat ibu dan perawat Rabiah bersiap untuk pensiun, dia sekali lagi menemukan dirinya berada di pulau terpencil di Laut Flores yang berjarak 250 km dari rumah. Dia telah bersiap untuk mengalihkan tanggung jawab tunggal untuk penduduk pulau kepada putrinya Mimi. Hamil di tahun 2019, Mimi melahirkan anak ketiganya di tengah pandemi COVID-19.

Tidak dapat mengamankan transportasi selama bulan-bulan setelah kelahirannya, Rabiah dan Mimi akhirnya melakukan perjalanan ke pulau-pulau tersebut, meninggalkan dua anak di rumah untuk melanjutkan pekerjaan mereka dan agar Rabiah menyelesaikan bimbingannya setelah 35 tahun di laut.

Sebelumnya, Arfan pernah mengangkat kisah Rabiah lewat film dokumenter Suster Apung. Film itu diproduksi tahun 2006.

3. Jadi yang terbaik di antara lima nominator

Ininnawa, Dokumenter Garapan Sineas Makassar Menang Piala CitraPembacaan nominasi film dokumenter panjang terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2022, Rabu (22/11/2022). YouTube/Festival Film Indonesia)

Film Ininnawa: An Island Calling memenangi Piala Citra FFI 2022 dengan mengalahkan empat nominator lain. Nominator di kategori film dokumenter panjang terbaik, antara lain: Atas Nama Daun karya Mahatma Putra, Mencari Ibu karya Dwiki Marta dan Ayomi Amindoni, Roda-roda Nada garapan Yuda Kurniawan, dan Segudang Wajah Para Penantang Masa Depan karya I Gde Mika dan Yuki Aditya.

Di podium FFI 2022, Arfan Sabran mengucapkan terima kasih buat Rabiah, Mimi dan keluarganya yang membantu sejak produksi Suster Apung di tahun 2006. Kedua tokoh dalam film itu bersedia membagikan kisah-kisahnya selama bekerja di pulau pelosok.

"Terima kasih juga semua kru yang bersedi amelaut bersama saya, dan mempersembahkan karya terbaiknya," ucap Arfan.

Baca Juga: Sejarah Festival Film Indonesia: Awal Terbentuk hingga Duta FFI

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya