Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anti Lemas! 5 Alasan Makan Songkolo Saat Sahur Bikin Kenyang Lama
Ilustrasi songkolo, makanan tradisional Sulawesi Selatan. (instagram.com/the.fooddoctor)

Makassar, IDN Times - Memasuki bulan ramadan, tantangan terbesar saat berpuasa adalah bagaimana cara menjaga energi agar tetap stabil hingga waktu berbuka. Di Sulawesi Selatan (Sulsel), ada satu menu andalan yang dipercaya sebagai "bahan bakar" terbaik untuk sahur: songkolo alias nasi ketan.

Bukan sekadar tradisi, ternyata ada alasan logis mengapa olahan ketan hitam atau putih ini biasa dipilih warga Sulsel sebagai menu makan sahur. Yuk, simak 5 alasannya!

1. Tekstur lengket nasi ketan memberi sinyal kenyang lebih baik

Ilustrasi nasi ketan. (SATELIT BM, Nasi Ketan Ampas Kelapa Di Kebumen Jateng Indonesia, CC BY-SA 4.0)

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nasi ketan memiliki efek mengenyangkan yang tinggi akibat konsistensinya yang lengket. Hasil studi yang dipublikasikan di jurnal MDPI Foods tahun 2024 mengungkapkan bahwa nasi ketan memiliki efek mengenyangkan yang tinggi karena teksturnya yang lengket dan kandungan amilopektin yang tinggi.

Tekstur pulen dan lengket khas songkolo membuat kita cenderung makan lebih perlahan. Hal ini memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang dari lambung, sehingga mencegah makan berlebihan tapi tetap memberikan rasa puas.

2. Kombinasi santan dan kelapa sangrai yang kaya lemak sehat

Ilustrasi santan. (S Sepp, Cononut milk, CC BY-SA 3.0)

Songkolo tidak hanya terdiri dari beras ketan saja. Makanan ini dimasak dengan santan dan disajikan dengan taburan kelapa sangrai. Kandungan lemak dari santan dan kelapa ini berperan penting dalam memperlambat pengosongan lambung.

Lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan protein serta karbohidrat sederhana. Lemak bertahan di lambung hingga 6 jam atau lebih karena strukturnya yang kompleks. Kombinasi ini membuat energi dilepaskan secara bertahap, sehingga kamu tidak cepat merasa lapar.

3. Kandungan serat dari kelapa sangrai sebagai pelengkap songkolo

Ilustrasi kelapa sangrai, serundeng. (Danangtrihartanto, 46. Srundèng 3, CC BY-SA 4.0)

Kelapa sangrai yang menjadi pelengkap songkolo ternyata kaya akan serat. Kandungan serat pada makanan bermanfaat dalam mencegah resiko penyakit jantung, diabetes dan membantu memperlancarkan pencernaan.

Serat inilah yang turut membantu memperlambat penyerapan glukosa ke dalam darah. Dan tersebut membuat energi orang-orag yang berpuasa jadi jauh lebih stabil sepanjang hari.

4. Asupan protein dari beberapa lauk pendamping

Ilustrasi ikan teri goreng. (Midori, Goreng ikan teri, CC BY 3.0)

Secara tradisional, songkolo juga disajikan dengan ikan teri goreng atau ayam. Kandungan protein dari lauk pendamping ini sangat penting untuk memberikan rasa kenyang yang tahan lama.

Studi yang terbit di jurnal ilmiah Advances in Food Science Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering pada 2019 menjelaskan tentang indeks rasa kenyang berbagai produk beras. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi nutrisi yang seimbang memberikan efek satiety (rasa kenyang) yang lebih baik dibandingkan konsumsi karbohidrat saja.

5. Menjadi makanan tradisional andalan masyarakat Sulsel

Ilustrasi makanan tradisional Sulawesi Selatan yakni songkolo. (Facebook.com/Songkolo Puang Nunu)

Tidak bisa dipungkiri, songkolo memiliki nilai spesial bagi masyarakat Sulawesi Selatan, terutama di masa menjelang ramadan. Beberapa tradisi seperti assuro' macca dan madduppa keteng mengharuskan kehadiran makanan tradisional tersebut.

Bahkan terdapat songkolo patang rupa, varian nasi ketan dalam empat warna yang memiliki makna filosofis masyarakat Bugis nan mendalam. Tak heran songkolo layak menjadi salah satu menu andalan dan terus dijaga dari generasi ke generasi.

Jadi, kamu berminat makan songkolo waktu sahur nanti?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team