Comscore Tracker

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesia

#RamadanMasaKini Jika tak ada bedug, galon air pun jadi

Sulsel, IDN Times - Seluruh umat Muslim di dunia selalu menanti dan menyabut bulan Ramadan. Di Indonesia, ada tradisi-tradisi khas yang memberi nuansa unik pada Ramadan.

Salah satunya adalah tradisi membangunkan orang untuk sahur dengan membunyikan beduk sembari meneriakkan, “Sahur! Sahur!” Jika tak ada beduk, alat-alat seadanya, kentongan hingga galon air mineralpun jadi.

Tradisi ini melibatkan umat Islam segala usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Ini membuat bulan Ramadan menjadi lebih meriah dan dirindukan. Bagaimana ya asal-usul tradisi ini? 

1. Berawal dari tradisi membangunkan sahur pada zaman Rasulullah

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesiakeywordbasket.com

Di zaman Nabi Muhammad, belum ada pengeras suara atau alat yang dapat digunakan untuk membangunkan sahur. Karenanya, cara yang dipakai sangat sederhana, yaitu dengan mengumandangkan azan.

Hanya saja, bukan untuk salat, melainkan sebagai pengingat waktu sahur. Bilal bin Rabah adalah orang yang ditunjuk Rasulullah untuk melakukannya.

Baca Juga: Mencium Istri Saat Berpuasa, Bolehkah?  

2. Ada pula tanda berakhirnya waktu sahur

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesiasporx.com

Berakhirnya waktu sahur ditandai dengan azan oleh Abdullah bin Ummi Maktum. Azan ini dikumandangkan sebagai pertanda masuknya waktu subuh karena pada saat itu tidak ada istilah imsak.

3. Setelah zaman Rasul, bangsa Arab berkeliling membangunkan orang untuk sahur

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesiaklimg.com

Penduduk di sekitar Mekkah memiliki kelompok-kelompok yang bertugas untuk membangunkan orang makan sahur. Bersenjatakan lentera dan gendang, mereka berkeliling ke sudut kota sambil meneriakkan bahwa waktu sahur telah tiba. Tradisi ini diadaptasi oleh bangsa Indonesia di berbagai daerah.

4. Beduk Sahur sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesiauf.cari.com.my

Beduk Sahur atau Ngarak Beduk adalah sebutan untuk tradisi membangunkan umat Islam untuk sahur menggunakan beduk. Tradisi ini dimulai oleh masyarakat Betawi sejak ratusan tahun yang lalu. Mereka menabuh beduk karena pada saat itu Jakarta masih berupa hutan dan rawa-rawa yang sulit ditembus suara manusia.

Baca Juga: FOTO: Uniknya Masjid di Makassar yang Menyerupai Kabbah  

5. Saat pengaruh budaya China masuk, beduk digantikan dengan petasan

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di IndonesiaPixabay.com/Pexels

Budaya Betawi dan China di masa lalu memiliki hubungan yang erat karena masyarakatnya hidup berdampingan. Saat pengaruh budaya China masuk, beduk untuk membangunkan sahur berganti dengan petasan. Ini karena petasan memiliki suara yang keras sehingga bisa mengejutkan orang yang mendengarnya.

6. Petasan kemudian digantikan dengan alat musik tradisional

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesiagotravelly.com

Sekitar abad ke-19, petasan tidak lagi digunakan. Masyarakat memilih menggunakan alat musik tradisional seperti beduk, gendang, rebana, dan lain-lain. Karena menggunakan alat musik, terkadang masyarakat menyertainya dengan nyanyian lagu Betawi. Orang-orang yang dibangunkan pun menjadi terhibur.

7. Setiap daerah di Indonesia juga memiliki tradisi sahurnya masing-masing

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesiamuslimpost.org

Di Sulawesi, tradisi beduk sahur dinamakan Dengo-dengo, sedangkan di Jawa Barat disebut Ubrug-ubrug. Ini adalah tradisi sahur yang paling umum dilakukan di Indonesia.

Di daerah lain juga ada tradisi sahur yang unik, lho. Seperti Patrol Canmacanan dari Situbondo, Klotekan dari Yogyakarta, dan Buroq dari Brebes. Pada umumnya tradisi tersebut dipengaruhi oleh kebudayaan daerah masing-masing.

8. Kini tradisi membangunkan orang sahur sudah mulai berkurang

Jalan Panjang Asal-Usul Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesiahalopolisi.com

Meskipun unik, aktivitas ini menuai pro dan kontra dari masyarakat karena sebagian menganggapnya mengganggu ketertiban umum. Ini terkait dengan larangan membuat kegaduhan di malam hari yang diatur dalam Pasal 503 angka 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan diancam dengan kurungan paling lama tiga hari atau denda hingga Rp225 ribu.

Bagaimana dengan di lingkungan sekitar rumahmu? Apakah tradisi berkeliling kampung untuk membangunkan orang sahur masih dilakukan hingga saat ini? Ceritakan di kolom komentar ya!

Baca Juga: [LINIMASA] Fakta dan Data Arus Mudik Lebaran 2019

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Just For You