Comscore Tracker

Benarkah Medsos Membuat Kamu Jadi Pemarah? Simak Penjelasan Sainsnya

Jangan sampai lepas kendali, guys!

Media sosial membantu orang-orang untuk tetap terhubung satu sama lain. Komunikasi pun tak perlu terhalang oleh jarak, waktu, dan keadaan.

Tapi kenyataannya, media sosial sering disalahgunakan buat menyebarkan hoaks, misinformasi, hingga rumor yang belum tentu kebenarannya. Kamu yang update dengan informasi di medsos pun kadang jadi ikut emosional hingga marah.

Niatnya menyambung tali silaturahmi, tapi konten media sosial tak jarang bisa mengadu dua orang dan memicu pertengkaran.

1. Pahami dulu mengapa kamu marah

Benarkah Medsos Membuat Kamu Jadi Pemarah? Simak Penjelasan SainsnyaFreepik/drobotdean

Bagi manusia, marah adalah hal normal dan manusiawi. Dr. Nadja Heym, dosen jurusan psikologi di Nottingham Trent University mengungkapkan bahwa kemarahan adalah intuisi perlindungan saat seseorang terancam bahaya, terpojokkan, atau diprovokasi.

"Adalah hal yang wajar untuk menyalurkan kemarahan Anda sampai batas tertentu. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa intens dan seberapa sering kemarahan tersebut muncul, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar amarah tersebut reda," kata Heym.

Marah membuat tubuh kita mengalami mekanisme fight of flight. Dampaknya, jantung berdebar-debar serta perasaan jadi tidak keruan.

Setiap orang punya cara melepaskan kemarahan, dari memukul, melempar benda, atau berteriak. Tapi Heym mengingatkan bahwa terus-terusan marah dan mengingat penyebabnya tidak akan menyelesaikan masalah.

2. Kini kemarahan semakin meningkat

Benarkah Medsos Membuat Kamu Jadi Pemarah? Simak Penjelasan Sainsnyapexels.com/David Garrison

Laporan dari Gallup bertajuk "Gallup 2019 Global Emotions Report" mengamati pola emosi sekitar 151 ribu partisipan di 140 negara. Hasilnya disimpulkan bahwa semakin banyak masyarakat yang marah, dengan angka rata-rata emosi negatif global sebesar 22 persen. Persentasi lebih tinggi pada masyarakat di negara yang dilanda peperangan.

Psikolog cum penulis Dr. Aaron Balick mengatakan bahwa kemarahan dapat dengan mudah dan cepat "tertularkan" kepada orang lain. Terlebih di masa perkembangan internet sudah sangat pesat seperti sekarang.

Profesor Emerita Barbara H. Rosenwein asal Loyola University Chicago mengatakan, dulu orang memegang konsep tidak meluapkan amarah di depan umum. Sebab hal itu dianggap memalukan. Namun kini kondisinya berbeda.

"(Kemarahan) telah digeneralisasikan dan semua orang berhak meluapkan amarah mereka," kata Barbara.

Baca Juga: Tahukah Kamu? Ini Tahap-tahap Terbentuknya Persahabatan secara Ilmiah

3. Apakah media sosial turut berperan?

Benarkah Medsos Membuat Kamu Jadi Pemarah? Simak Penjelasan Sainsnya180fusion.com

Sekarang sebagian besar orang sudah terhubung dengan internet serta punya akun media sosial. Dengan akses tak terbatas, kita bisa menyerap segala hal di medsos. Tapi selain menghubungkan orang, medsos juga membuat orang semakin cepat marah. 

Psikolog cum penulis Dr. Aaron Balick mengatakan: "Bisa dikatakan, semua orang tengah merasakan kemarahan yang kronis."

Menurut Balick, memainkan media sosial ibarat mengemudikan sebuah kendaraan. Seseorang yang sedang banyak pikiran seperti halnya menemukan seseorang di depanmu mengerem mendadak.

"Kamu pasti cenderung ingin berteriak keluar jendela. Sedangkan jika kamu dalam kondisi yang relatif tenang dan hal yang sama terjadi, kamu memiliki kesabaran untuk membiarkannya berlalu," katanya.

Menurutnya, orang yang terpapar sebuah konten medsos yang negatif akan sulit menahan kemarahan. Tapi medsos hanyalah perpanjangan realitas di dunia nyata. Berita dan konten pada media sosial hanyalah menyampaikan informasi dari dunia nyata.

Contoh paling umum adalah di saat topik politik bergabung dengan agama, atau topik di mana kemanusiaan ditelantarkan. Terlebih saat kamu membaca komentar-komentarnya yang terkadang membuatmu geleng-geleng kepala.

"Dalam beberapa kasus, [media sosial] dapat menjadi akselerator yang meningkatkan kemarahan, frustrasi, dan perpecahan yang sudah ada," ujar Balick.

4. Cara umum meluapkan kemarahan di media sosial

Benarkah Medsos Membuat Kamu Jadi Pemarah? Simak Penjelasan Sainsnyabusinesstoday.com.my

Di media sosial, tidak ada lagi yang namanya rahasia. Sebab semua orang bisa tahu semua hal. Ini membuat sebagian orang memilih membuat akun anonim. Dengan begitu mereka bisa melancarkan serangan tanpa takut identitasnya terbongkar.

Dalam bukunya yang berjudul "The Psychodynamics Of Social Networking", Balick menjelaskan bahwa anonimitas adalah bagian besar dari meluapkan kemarahan di dunia maya. Menurut penelitiannya, pengguna akun anonim lebih banyak ditemukan di Twitter daripada Facebook.

"Seseorang cenderung lebih mudah meluapkan kemarahan di dunia maya jika memiliki akun anonim," katanya.

Hal ini tentu bukan tanpa sebab. Konsep anonimitas membuat seseorang berpikir bahwa mereka bisa luput dari segala tekanan sosial atau hukuman selama mereka tidak diketahui.

5. Solusi agar tetap tenang di media sosial

Benarkah Medsos Membuat Kamu Jadi Pemarah? Simak Penjelasan Sainsnyapexels.com/Andrea Piacquadio

Sama seperti berlarut-larut dalam amarah itu tidak baik. Oleh karena itu, lebih baik kamu marah sebentar lalu setelah lega, kembali lanjutkan aktivitasmu.

Caranya? Sekali lagi, sama seperti orang yang mengerem mendadak di depanmu, kamu pastinya kesal dan ingin rasanya keluar dan melabrak orang tersebut, kan?

Heym mengingatkan, hal tersebut dapat dicegah. Sebelum kamu marah, coba atur napasmu dan lihat kejadian tersebut dari sisi yang lain. Dengan cara ini, kamu menjaga dirimu agar tidak kalap, serta melatih diri agar peka pada keadaan.

"Tunggu sebentar, atur pernapasanmu, dan lepaskan dirimu dari rasa frustasi tersebut. Baru, kamu bisa melihat kejadian tersebut dari sisi lain," kata Heym.

Heym tidak menyarankanmu memendam emosi, karena tidak baik jika terlalu lama dan terlalu sering. Jika konten di medsos membuatmu panas, tahan diri untuk langsung berkomentar. Salurkanlah amarah dengan cara lain. Kamu bisa berolahraga, atau memukul bantal karena lebih baik daripada memukul orang.

Baca Juga: Kamu Benci Pekerjaanmu? Secara Ilmiah Ini 7 Efeknya terhadap Tubuhmu

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya