Comscore Tracker

Keren! Disabilitas Tak Hentikan Angkie Yudistia dalam Ukir Prestasi

Angkie menjadi salah satu staf khusus presiden loh

Jakarta, IDN Times - Angkie Yudistia kecil mungkin tak pernah punya cita-cita bakal jadi staf khusus presiden. Dia menghabiskan masa remajanya dengan rasa minder.

Karena sakit, Angkie harus kehilangan pendengaran di usia 10 tahun. Beruntung Angkie memiliki keluarga yang selalu ada dan memberi dukungan. 

Kamis sore (21/12), namanya dipanggil Presiden Joko "Jokowi" Widodo di Istana Negara sebagai staf khususnya. Siapa Angkie dan bagaimana sepak terjangnya hingga prestasinya dilirik Presiden Jokowi?

1. Angkie kecil hingga remaja dihinggapi depresi dan minder

Keren! Disabilitas Tak Hentikan Angkie Yudistia dalam Ukir PrestasiAngkie Yudistia (CEO ThisAble) jelaskan tentang ThisAble Learning Center. 31 Oktober 2019. IDN Times/Febriyanti Revitasari

Ketika hadir ke dunia pada 5 Mei 1987, Angkie baik-baik saja dan semua indera di tubuhnya bekerja dengan normal.

Hingga kemudian dia demam tinggi dan menderita malaria. Diduga kedua penyakit itu yang merusak indera pendengarannya. Kala itu, Angkie baru berusia 10 tahun. 

Tentu Angkie menjalani proses penyesuaian di kehidupannya itu tidak mudah. Ia sempat merasa depresi saat remaja lantaran merasa tak sama seperti anak seusianya. 

"Saat remaja anak-anak yang lain sibuk main, seru-seruan, tapi aku mengalami minder. Aku dulu bertanya-tanya kenapa aku berbeda dibandingkan teman-teman lain," ujar Angkie pada tahun 2016 lalu. 

Beruntung, Angkie memiliki keluarga yang terus mendukung hidupnya. Alhasil, Angkie berhasil melewati masa sulit itu dan bahkan mendorong penyandang tuna rungu lainnya agar turut mempunya motivasi serupa. 

Baca Juga: Disabilitas Bukan Pembatas, Ini 5 Kisah Inspiratif Angkie Yudistia

2. Sebuah buku berjudul Perempuan Tunarungu Menembus Batas

Keren! Disabilitas Tak Hentikan Angkie Yudistia dalam Ukir PrestasiInstagram/angkie.yudistia

Walaupun ia merupakan penyandang tuna rungu, namun Angkie tak mau menyerah terhadap nasib. Ia tetap meneruskan pendidikannya dengan menempuh studi periklanan di The London School of Public Relations Jakarta pada 2005 - 2009. Ia juga bahkan sukses meraih gelar master di kampus yang sama pada 2010 lalu. 

Bahkan, di saat tengah menempuh studi sarjana, Angkie sempat mengikuti pemilihan Abang None Jakarta tahun 2008 lalu. Ia lolos hingga di tahap final, kendati gagal terpilih. Lalu, pada 2011, ia sempat menelurkan sebuah buku berjudul Perempuan Tunarungu Menembus Batas.

3. Angkie mendirikan Thisable Enterprise tahun 2011 untuk membuka peluang bagi penyandang disabilitas bekerja

Keren! Disabilitas Tak Hentikan Angkie Yudistia dalam Ukir Prestasi(Para pekerja di Thisable Enterprise yang bekerja sebagai terapis) www.thisable.or.id

Melalui situs resminya, Angkie menulis bahwa dia mendirikan Thisable Enterprise pada 2011. Perusahaan itu memiliki misi untuk memberdayakan disabilitas Indonesia dan menyalurkan ke dunia kerja. Ujung-ujungnya perekonomian mereka bisa terangkat. 

Apabila menelusur situs resmi Thisable Enterprise, para penyandang disabilitas disalurkan untuk mengerjakan produk atau menjual jasa. Angkie rupanya menggandeng Go-Jek agar para penyandang disabilitas itu bisa menjadi mitra untuk memijat, membersihkan rumah, mobil atau bahkan memberikan layanan make up di rumah. 

Sementara, produk yang dijual secara retail adalah sabun dan produk kecantikan. Angkie mengatakan kendati produk itu dikerjakan oleh penyandang disabilitas, bukan berarti kualitasnya tidak bagus. 

Angkie juga tak mau produk tersebut dibeli karena rasa kasihan dari publik. Sebab, produk-produk tersebut dikerjakan secara cermat dan memiliki kualitas baik. 

4. Angkie ingin diakui karena karya, bukan disabilitas yang dia alami

Keren! Disabilitas Tak Hentikan Angkie Yudistia dalam Ukir PrestasiInstagram/angkieyudistia

Dalam acara Indonesia Writer's Festival yang digelar oleh IDN Times pada September lalu, Angkie mengaku tidak ingin dikenal oleh publik sebagai penyandang disabilitas. Ia memilih ingin dikenal karena karya yang dihasilkannya. 

"Maka kita harus never give up. Meski saya tidak mendengar, namun saya tahu orang itu merespons kita karena kasian atau sebaliknya," kata dia ketika itu. 

Di hadapan publik yang menyaksikan dialog di Universitas Multimedia Nusantara, Angkie menunjukkan alat bantu dengar yang ia pasang di telinganya setiap hari. Dengan alat tersebut, sepintas ia terlihat seperti perempuan yang memiliki indera pendengaran yang utuh. 

"Saya tidak kelihatan kan penyandang tuna rungu. Ini saya pakai alat dengar sebagai alat bantu saya. Jadi, kalau saya tidak dengar colek saja ya," ujarnya yang disambut senyum mahasiswa yang menyaksikannya. 

Angkie menegaskan manusia tetap harus berkarya meski mempunyai keterbatasan.

"Penyandang disabilitas juga harus punya karya sebagai eksistensi dan pengakuan. Jangan sampai orang-orang memandang negatif dan kasihan," tutur dia. 

Gimana, menurut kalian stafsus Jokowi yang ini? Keren kan?

https://www.youtube.com/embed/mIyQqwkZ6V4

Baca Juga: Angkie Yudistia: Penyandang Disabilitas Juga Tetap Harus Berkarya

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya