Comscore Tracker

5 Fakta Sugianto Sabran, Gubernur Kalteng yang Lempar Botol ke Wasit

Aksinya melempar botol minum itu menuai kontroversi

Jakarta, IDN Times - Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran kedapatan melempar botol minum ke wasit ketika digelar pertandingan sepak bola Liga 1 Sophee antara Kalteng Putra melawan Persib pada Jumat (1/11) di Stadion Tuah Pahoe, Palangkaraya. Aksinya itu menuai kontroversi dan menjadi sorotan publik.

Bahkan, ketika wasit memberikan kartu merah kepada striker Kalteng Putra, Patrich Wanggai, Sugianto ikut memprotesnya. Ia turun ke lapangan untuk menyampaikan protesnya secara langsung kepada wasit. Kapolres Palangkaraya, AKBP RK Siregar sampai harus turun tangan melerai adu mulut tersebut. 

Semua aksi Sugianto itu terekam kamera dan beredar di media sosial. Pada akhirnya, tim Persib berhasil memenangkan pertandingan dengan skor 2-0. 

"Ketika di Liga 1, kekecewaan ini sudah berulang kali dilakukan oleh oknum wasit dan PSSI sendiri tidak ada perubahan walaupun sudah pernah dilaporkan oleh manajemen Kalteng Putra. Dan yang kemarin ini sudah kali keempat Kalteng Putra dirugikan oleh oknum wasit," demikian kata Sugianto, menceritakan motif mengapa ia tersulut kemarahan saat Liga 1 itu. 

Berikut 5 fakta mengenai Sugianto Sabran.

1. Keluarga Sugianto memiliki perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menggurita di Kalimantan Tengah

5 Fakta Sugianto Sabran, Gubernur Kalteng yang Lempar Botol ke Wasit(Gubernur Kalteng Sugianto Sabran) Instagram.com/@sugianto_sabran

Tahun 2005, Sugianto semakin dikenal publik ketika menikah dengan aktris sinetron Ussy Sulityawati. Kala itu, publik mengenal namanya sebagai Yusuf Sugianto. 

Nama Sugianto sudah lama dikenal di Kalteng sebagai pengusaha kelapa sawit yang kaya raya. Paman Sugianto, Abdul Rasyid adala pemilik konglomerasi Citra Borneo Indah (CBI) Group, perkebunan dan industri kelapa sawit. Salah satu anak perusahaan CBI, PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) Tbk sudah melantai di Bursa Efek Indonesia sejak Desember 2013 lalu. 

Sugianto kemudian ditunjuk menjadi direktur salah satu anak perusahaan milik pamannya, yakni Tanjung Lingga. Dalam pemberitaan yang ditulis oleh situs Mongabay, perusahaan itu disebut-sebut melakukan penebangan secara ilegal di hutan lindung Taman Nasional Tanjung Putting. 

Baca Juga: Polres Lahat Amankan 10 Orang Pembalak Liar di Hutan Konservasi 

2. Merambah dunia politik ketika Sugianto menjadi anggota DPR dan sempat lolos ke kursi Bupati Kotawaringin Barat

5 Fakta Sugianto Sabran, Gubernur Kalteng yang Lempar Botol ke WasitGubernur Kalteng Sugianto Sabran (paling kanan) Instagram.com/@sugianto_sabran

Pria kelahiran Sampit, 5 Juli 1973 lalu itu kemudian melebarkan kariernya ke dunia politik. Keluarga Sabran memang dikenal sudah cukup kental menjadi kader PDI Perjuangan, termasuk Sugianto. 

Ia sempat terpilih menjadi anggota DPR periode 2009 - 2014. Sugianto duduk di komisi IV yang menangani isu kehutanan, pertania,n dan pangan. 

Pada 2010, ia memutuskan ikut dalam pilkada di Kotawaringin Barat. Ia berpasangan dengan Eko Soemarno dalam kontestasi pilkada. Lawannya, bupati petahana yakni Ujang Iskandar dengan Bambang Purwanto. 

Dalam hasil pemungutan, Sugianto dinyatakan sebagai pemenang. Namun, kemenangan itu digugat oleh Ujang ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ketika itu Ujang menggandeng Bambang Widjojanto sebagai kuasa hukumnya. 

Alhasil, MK menganulir kemenangan Sugianto dan memenangkan Ujang. Tak terima, kubu Sugianto kemudian melaporkan Ujang ke polisi lantaran saat persidangan di MK ada salah satu saksi yang memberikan keterangan palsu.

Menurut Sugianto, ia sudah sempat melaporkan adanya pemberian keterangan palsu dari pihak Ujang sebanyak dua kali pada 2010 lalu, tapi tidak digubris.

Saksi yang diketahui bernama Ratna itu kemudian dinyatakan bersalah oleh majelis hakim PN Jakarta Pusat. Ia lalu divonis selama lima bulan penjara. 

Ketika maju di pilkada Bupati, Sugianto memilih keluar dari PDI Perjuangan, lantaran ia tidak mengantongi restu dari DPP. Ia sempat berlabuh ke Partai Gerindra. 

Namun, usai dilantik menjadi gubernur pada 2016 lalu, Sugianto memilih kembali ke partai dengan lambang moncong putih itu. Penegasan Sugianto kembali menjadi kader PDI Perjuangan disampaikan dalam rapat koordinasi daerah PDI Perjuangan di Palangka Raya, Kalteng pada 7 Mei 2017. 

3. Sugianto pernah melaporkan mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto

5 Fakta Sugianto Sabran, Gubernur Kalteng yang Lempar Botol ke WasitBambang Widjojanto. IDN Times/Margith Juita Damanik

Karena laporan Sugianto tahun 2010 itu, Bambang Widjojanto yang kala itu aktif sebagai pimpinan KPK ditangkap oleh personel Polri tahun 2015.

Laporan itu dinilai aneh, karena Polri memprosesnya pada 19 Januari 2015, tak lama usai komisi antirasuah mengumumkan Budi Gunawan sebagai tersangka korupsi pemilik rekening gendut.

Kepada media, kuasa hukum Sugianto, Carel Ticualu mengatakan laporan kliennya soal dugaan kecurangan di pilkada Kotawaringin Barat sudah mereka lakukan sejak 2010. Namun, laporan tersebut mangkrak dan tidak ditindaklanjuti. 

"Timing-nya pas. Ditambah kesaksian Akil bahwa kasus Kobar (Kotawaringin Barat), BW bermain (di sengketa Pilkada). Ditambah berbarengan dengan kasus BG, kita termasuk yang diuntungkan," kata Carel pada 23 Januari 2015 lalu di Mabes Polri. 

Laporan Sugianto diproses dengan cepat. Laporan itu masuk pada 19 Januari, lalu empat hari kemudian BW ditangkap oleh personel Polri. Itu sebabnya, banyak pihak yang menduga telah terjadi tindak kriminalisasi oleh Polri terhadap eks pimpinan KPK itu. 

BW ditangkap oleh personel Polri ketika ia tengah mengantarkan anaknya ke sekolah. 

4. Sugianto lantik Bupati perempuan pertama di Kotawaringin Barat--yang adalah kerabatnya

5 Fakta Sugianto Sabran, Gubernur Kalteng yang Lempar Botol ke WasitGubernur Sugianto Sabran melantik Bupati perempuan pertama Kobar Nurhidayah. Dok.IDN Times/Istimewa

Sugianto pernah melantik bupati perempuan pertama di Kotawaringin Barat bernama Nurhidayah. Ia merupakan perempuan pertama yang terpilih melalui pilkada langsung dan menjadi srikandi pertama se-Kalimantan Tengah yang jadi pemimpin. 

Nurhidayah terpilih jadi pimpinan Kobar bersama Ahmadi Riyansah dengan meraup 52 persen suara. Mereka berhasil mengalahkan empat pasangan lainnya. 

Nurhidayah masih terhitung kerabat Sugianto. Ia diketahui merupakan istri dari pengusaha bernama Ruslan yang notabene kakak kandung paman Sugianto yakni Abdul Rasyid. Ruslan adalah Ketua DPD Golkar di provinsi Kalimantan Tengah. 

5. Berdasarkan data di KPK, Sugianto mempunyai kekayaan hingga Rp112,2 miliar

5 Fakta Sugianto Sabran, Gubernur Kalteng yang Lempar Botol ke WasitGubernur Kalteng Sugianto Sabran (kanan). Instagram.com/@sugianto_sabran

Sugianto termasuk kepala daerah yang cukup rutin melaporkan datanya. Ada lima data yang bisa diakses oleh publik terkait harta kekayaan Sugianto di KPK, baik ketika ia menjabat anggota DPR maupun Gubernur Kalteng. 

Kali terakhir Sugianto melapor harta kekayaan pada Desember 2018. Nominal hartanya sangat fantastis yakni mencapai Rp112,2 miliar. 

Nilai harta itu meningkat sangat drastis bila dibandingkan kepemilikan pada 2017, yakni Rp2,5 miliar. Dalam rincian data harta kekayaan tahun 2018, Sugianto diketahui memiliki harta paling banyak dalam bentuk kas dan setara kas. Nominalnya mencapai Rp74,8 miliar. 

Ada pula harta lain yang nilainya tinggi dan disumbang oleh tanah serta bangunan. Sugianto melaporkan memiliki tujuh tanah dan bangunan yang berada di Kotawaringin Barat. Total nilai harta itu mencapai Rp21,2 miliar. 

Ia juga tercatat memiliki lima kendaraan mewah roda empat yang terdiri dari Mitsubishi Pajero keluaran tahun 2014 yang nilainya mencapai Rp250 juta. Lalu, ia juga memiliki Toyota Alphard keluaran tahun 2012 dengan nilai Rp450 juta. 

Mobil Toyota Land Cruiser keluaran tahun 2015 senilai Rp1 miliar. Sugianto juga tercatat memiliki mobil Range Rover produksi tahun 2012 senilai Rp500 juta dan mobil Mazda produksi 2010 senilai Rp200 juta. 

Ia juga memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp13,7 miliar. Maka, apabila dijumlahkan, total harta yang tertulis di LHKPN KPK mencapai Rp112,2 miliar. 

Baca Juga: Ini Pelajaran dari Diskriminasi Kelapa Sawit oleh Eropa

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya