Comscore Tracker

5 Fakta Protes Kematian George Floyd di AS yang Berujung Rusuh 

Massa menggugat brutalitas polisi kepada warga kulit hitam

Minneapolis, IDN Times - Belakangan ini Minneapolis di negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, diwarnai protes. Warga menuntut keadilan atas meninggalnya laki-laki kulit hitam George Floyd di tangan polisi.

Tiga hari terakhir, gencar demonstrasi damai yang menyuarakan gugatan agar polisi yang berbuat kekerasan dihukum. Demonstrasi itu kemudian berujung rusuh, di mana polisi dengan perangkat anti huru-hara menembakkan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Sebaliknya, massa membakar kantor polisi. Menurut sejumlah laporan, terjadi aksi penjarahan di sebuah jaringan toko swalayan besar. Situasi di Minneapolis kian panas setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan ancaman, bakal mengerahkan militer dan menembak demonstran.

Berikut sejumlah fakta terkait demonstrasi protes kematian George Floyd di Minneapolis, AS.

1. Floyd meninggal setelah jadi korban kekerasan polisi

5 Fakta Protes Kematian George Floyd di AS yang Berujung Rusuh Suasana protes pembunuhan George Floyd yang berujung kerusuhan di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 26 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Eric Miller

Floyd merupakan pria kulit hitam berusia 46 tahun yang tewas di tangan polisi. Kematiannya jadi pusat perhatian warga AS karena beredar sebuah video yang merekam tindak kekerasan oknum aparat.

Floyd dilaporkan meninggal pada Senin (25/5). Saat itu, sejumlah polisi datang ke lokasi setelah menerima panggilan dari sebuah toko. Floyd yang tanpa membawa senjata dituding melaksukan cek. Tayangan memperlihatkan para polisi menyerang Floyd, membuatnya telungkup di atas aspal dengan leher ditekan oleh lutut seorang polisi.

Floyd terdengar meminta ampun dan berkata “Saya tidak bisa bernafas” dan “Jangan bunuh saya”. Namun, polisi tidak menggubris dan meneruskan aksi kekerasan itu.

2. Laporan berbeda muncul mengenai waktu kematian Floyd

5 Fakta Protes Kematian George Floyd di AS yang Berujung Rusuh Suasana protes pembunuhan George Floyd yang berujung kerusuhan di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

Polisi setempat sempat mengadakan konferensi pers soal kematian Floyd. Juru bicara kepolisian menyebut Floyd meninggal beberapa saat setelah insiden terjadi, ketika ia sedang dibawa ke rumah sakit.

Peristiwa itu sedang diselidiki oleh FBI. Tapi sejumlah saksi mata di lokasi dan merekam kejadian itu menyampaikan pendapat lain.

“Polisi membunuhnya, bro, di depan semua orang,” kata seorang saksi bernama Darnella Frazier, seperti dikutip The Guardian.

Saksi lain terdengar dalam video berteriak, “Bro, dia bahkan tidak bergerak!”. Seorang lainnya dengan panik berkata, “Kalian membunuhnya?”.

Baca Juga: Twitter Sembunyikan Cuitan Trump karena Dinilai Agungkan Kekerasan

3. Saudara Floyd meminta para polisi itu dituntut dengan pasal pembunuhan

5 Fakta Protes Kematian George Floyd di AS yang Berujung Rusuh Suasana protes pembunuhan George Floyd yang berujung kerusuhan di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

Banyak warganet yang menilai Floyd adalah korban brutalitas polisi hingga nyawanya melayang. Oleh karena itu, mereka menuntut agar empat polisi yang terlibat dalam insiden itu segera diadili. Sedangkan saudara Floyd, Bridget Floyd, lebih spesifik meminta mereka dituntut dengan pasal pembunuhan.

“Saya dan keluarga saya menganggap ini masalah yang sangat, sangat serius. Ini menyedihkan, sangat mengganggu,” ucap Bridget saat diwawancara oleh NBC.

“Saya mau para polisi ini dikenakan pasal pembunuhan sebab itu yang memang mereka lakukan. Mereka membunuh saudara saya. Dia berteriak meminta pertolongan,” kecamnya.

Seperti dilaporkan Reuters, polisi yang menekan leher Floyd dengan lutut bernama Derek Chauvin. Ia sudah hampir dua dekade menjadi anggota kepolisian. Keempatnya akhirnya dipecat sehari usai Floyd meninggal. Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengatakan penyelidikan terhadap kematian Floyd menjadi prioritas utama saat ini.

4. Ribuan orang melakukan demonstrasi damai yang kemudian berujung rusuh

5 Fakta Protes Kematian George Floyd di AS yang Berujung Rusuh Pengunjuk rasa berkumpul menyaksikan toko Advance Auto Parts yang terbakar dekat kantor polisi Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Adam Bettcher

Pada Selasa malam (26/5), ribuan orang melakukan demonstrasi di Minneapolis. Mereka menilai brutalitas polisi terutama terhadap warga kulit hitam harus dihentikan. Tagar #BlackLivesMatter pun bergema di media sosial.

Banyak warganet mengaku sudah muak dengan kejadian yang terus berulang di mana polisi melakukan kekerasan di luar proporsi kepada orang-orang Afrika-Amerika dan minoritas lainnya.

Demonstrasi berlangsung hingga Rabu (27/5) dan masih berjalan damai. Kemudian, berbagai laporan media menyebut mereka mulai mengepung markas polisi dan melemparkan batu. Polisi yang berusaha membubarkan massa menggunakan pakaian anti-huru-hara, lalu menembakkan gas air mata dan peluru karet. Beberapa terluka.

Tak sedikit warganet yang membandingkan respons polisi saat kejadian ini dengan ketika sejumlah pendukung Trump melakukan protes terhadap kebijakan karantina wilayah dan pemakaian masker untuk menekan laju penyebaran virus corona. Mereka secara terang-terangan membawa senjata api. Namun, aparat keamanan memilih membiarkan.

5. Massa membakar kantor polisi dan Trump mengancam akan mengerahkan militer

5 Fakta Protes Kematian George Floyd di AS yang Berujung Rusuh Seorang pria yang diduga bagian dari massa protes pembunuhan George Floyd berada di dalam supermarket Target yang sudah dijarah di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 28 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

Pada Kamis malam (28/5), muncul laporan sejumlah demonstran masuk ke salah satu kantor polisi dan mulai melakukan pembakaran. Beberapa toko dijarah dan dibakar. Salah satu yang dijarah adalah jaringan supermarket besar Amerika Serikat. Polisi juga melaporkan ada 170 toko yang dirusak.

Gubernur Negara Bagian Minnesota pun mengerahkan Garda Nasional dan mengumumkan status darurat. Sedangkan Trump membuat situasi semakin panas dengan menyebut demonstran sebagai preman dan mengancam mengerahkan militer.

Lewat twit yang sudah disembunyikan Twitter karena dinilai “mengglorifikasi kekerasan”, Trump juga mengancam saat penjarahan dimulai, penembakan dimulai. Ini diterjemahkan sebagai seruan Trump kepada aparat untuk menembak demonstran yang melakukan penjarahan.

Protes menuntut penghentian brutalitas polisi juga terjadi di sejumlah kota besar lainnya, mulai dari Denver hingga New York. Insiden ini turut membuat Komisioner HAM PBB Michelle Bachelet berkomentar. Ia mengaku cemas karena Floyd masuk ke daftar panjang warga Amerika Serikat berkulit hitam yang dibunuh oleh polisi.

Baca Juga: Wartawan CNN Ditangkap Polisi saat Meliput Kerusuhan di Minneapolis

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya