Comscore Tracker

Pemimpin Besar Iran Tolak Dialog Bilateral dengan Amerika Serikat

Tensi hubungan Iran-AS semakin meningkat

Tehran, IDN Times - Serangan drone yang menghancurkan kilang minyak Aramco di Arab Saudi beberapa waktu lalu, membuat Pemimpin Besar Iran, Ayatollah Khamenei, bereaksi keras. Sang Pemimpin menyatakan penolakan untuk melakukan dialog bilateral dengan Amerika Serikat.

"Para pejabat Iran, di segala level, tidak akan pernah melakukan dialog dengan pejabat Amerika Serikat...ini merupakan bagian dari kebijakan mereka untuk menekan Iran...kebijakan tekanan maksimum mereka akan gagal," kata Khamenei dalam sebuah tayangan televisi pemerintah pada Selasa (17/9).

1. Iran hanya akan melakukan dialog di level multilateral dengan sebuah syarat

Pemimpin Besar Iran Tolak Dialog Bilateral dengan Amerika SerikatAyatollah Khamenei ketika memberikan ceramah di Tehran, Iran. ANTARA FOTO/Official Khamenei website/Handout via REUTERS

Dilansir dari Reuters, Khamenei menyatakan meski tidak akan bertemu secara bilateral, tapi Iran masih mungkin melakukan pertemuan dalam forum multilateral. Hanya saja, ada satu syarat yang diajukan oleh Iran yaitu kembali kepada kesepakatan nuklir yang ditandatangani Tehran dan Washington pada 2015.

"Jika Amerika Serikat mengubah sikapnya dan kembali kepada kesepakatan nuklir [Iran pada 2015], maka negara ini bisa bergabung dalam pembicaraan multilateral antara Iran dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam kesepakatan itu," kata Khamenei yang menambahkan bahwa seluruh pejabat Iran setuju dengan keputusan ini.

2. Agenda pertemuan antara Donald Trump dan Hassan Rouhani sempat dibantah Teheran

Pemimpin Besar Iran Tolak Dialog Bilateral dengan Amerika SerikatPresiden Iran Hassan Rouhani. ANTARA FOTO/Official Presidential website/Handout via REUTERS

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousawi pada (16/9) mengatakan tidak ada agenda pertemuan antara Rouhani dan Trump di sela-sela forum multilateral Sidang Umum PBB (UNGA) pada Oktober mendatang.

Kedua presiden sempat dikabarkan akan bertatap muka ketika sama-sama menghadiri acara itu di New York.

"Kami tidak merencanakan pertemuan tersebut dan saya tidak berpikir peristiwa seperti itu akan terjadi di New York," tutur Mousavi dalam sebuah program yang ditayangkan stasiun televisi Iran, seperti dikutip oleh Al Jazeera.

3. Amerika Serikat membuat pernyataan membingungkan tentang kabar tersebut

Sementara itu, Amerika Serikat juga belum mengambil keputusan pasti tentang kemungkinan adanya pertemuan antara Trump dan Rouhani. Dalam sesi tanya-jawab dengan para reporter di Gedung Putih pada 5 September lalu, Trump menyatakan terbuka pada kesempatan tersebut. 

"Tentu saja, segalanya mungkin. Mereka ingin menyelesaikan masalah mereka," kata Trump, menyinggung persoalan ekonomi Iran. "Kita bisa mengatasinya dalam 24 jam," tambahnya. Kemudian, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, menyebut Trump dan Rouhani bisa saja melakukan pertemuan di sela-sela UNGA "tanpa syarat".

Apa yang dikatakan Pompeo mengulangi pernyataan Trump dalam sebuah wawancara khusus dengan wartawan NBC pada Juni lalu. Ketika ditanya apakah ia bersedia bertemu Iran "tanpa syarat", Trump menjawab,"Tidak ada, selama saya ketahui. Tidak ada syarat."

Akan tetapi, pada Selasa (16/9), Trump mencuitkan pernyataan berbeda. "Berita bohong mengabarkan saya bersedia bertemu dengan Iran,"Tanpa Syarat". Ini adalah pernyataan yang tidak benar (seperti biasa!)," cuitnya.

4. Pemimpin Besar Iran menolak patuh pada "tekanan maksimum" Amerika Serikat

Pemimpin Besar Iran Tolak Dialog Bilateral dengan Amerika SerikatPemimpin Besar Iran Ayatollah Khamenei. ANTARA FOTO/Official Khamenei website/Handout via REUTERS

Trump sendiri memutuskan meninggalkan kesepakatan nuklir dengan Iran pada 2018. Sejak itu, Gedung Putih mengetatkan sanksi kepada Iran yang diikuti oleh sejumlah negara Barat. Tehran memandangnya sebagai salah satu strategi Washington untuk menekan Iran.

Pemerintah Iran pun menegaskan akan melanggar semua kesepakatan nuklir jika Trump terus menjalankan kebijakan itu. "Jika kami menyerah pada tekanan mereka dan melakukan dialog dengan orang-orang Amerika...Ini akan menunjukkan bahwa tekanan maksimum mereka terhadap Iran telah berhasil," tegas Khamenei.

"Mereka harus tahu bahwa kebijakan itu tidak ada nilainya bagi kami."

5. Serangan terhadap Aramco mengakibatkan tensi antara Amerika Serikat dan Iran semakin panas

Pemimpin Besar Iran Tolak Dialog Bilateral dengan Amerika SerikatKebakaran di kilang minyak Aramco, Arab Saudi, terlihat dari kejauhan pada 14 September 2019. ANTARA FOTO/REUTERS

Di saat bersamaan, Amerika Serikat dan Iran sedang bersitegang setelah adanya serangan drone terhadap kilang minyak Aramco di Arab Saudi. Kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengaku bertanggung jawab. Sementara Amerika Serikat dan Arab Saudi menuding Iran sebagai dalangnya.

Iran sendiri membantahnya. Pejabat pemerintah di Tehran menyebut tuduhan itu "sia-sia". Sedangkan yang lainnya mengingatkan bahwa kepentingan-kepentingan Amerika Serikat di kawasan berada dalam jangkauan rudal Iran.

Baca Juga: 5 Fakta Terkini Soal Serangan Terhadap Aramco di Arab Saudi

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya