Comscore Tracker

Luhut Sebut Corona Tak Kuat di Indonesia, Analisis BMKG Membenarkan

Menurut kajian, virus corona sulit berkembang di cuaca panas

Jakarta, IDN Times – Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan, baru-baru ini melontarkan pernyataan soal ketahanan COVID-19. Dia mengatakan, virus corona tidak kuat bertahan pada cuaca panas dengan kelembaban tinggi seperti di Indonesia.

"Dari hasil modelling, cuaca Indonesia yang panas dan humidity tinggi, maka untuk COVID-19 itu gak kuat," ujar Luhut dalam keterangan persnya yang disirarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (2/4).

Benarkah pernyataan Luhut? Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah meneliti tentang pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran COVID-19. Dan hasilnya, memang ada indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam penyebaran wabah virus corona.

“Hasil kajian yg telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian terkait pada tanggal 26 Maret 2020,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/4).

1. Negara sub-tropis lebih rentan

Luhut Sebut Corona Tak Kuat di Indonesia, Analisis BMKG MembenarkanSeorang staf medis berdiri di depan seorang pasien COVID-19 di unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit San Raffaele, Milan, Italia, pada 27 Maret 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Flavio Lo Scalzo

BMKG melakukan penelitian yang diperkuat sejumlah literatur, seperti hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020). Hasilnya menunjukkan bahwa penyebaran kasus COVID-19 pada gelombang pertama terjadi di zona iklim yang sama. Rata-rata terjadi di negara pada posisi lintang tinggi, di wilayah sub-tropis dan temparate. 

Hasil anaslisis juga menemukan bahwa iklim tropis bisa membantu menekan penyebaran virus corona. Sebab pada kondisi iklim tropis, virus lebih cepat menjadi tidak stabil.

“Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis,” kata Dwikorita.

Baca Juga: Luhut: Virus Corona Tidak Kuat Bertahan di Cuaca Indonesia

2. Virus corona berkembang pada temperatur ideal 8-10 derajat celcius

Luhut Sebut Corona Tak Kuat di Indonesia, Analisis BMKG MembenarkanPetugas mengecek proses swab test yang baru dilakukan dari seorang tenaga medis. (IDN Times/Candra Irawan)

Dwikorita mengungkapkan bahwa menurut penelitian, virus corona berkembang pada termperatur ideal sekitar 8-10 derajat celcius. Selain itu, pada kondisi udara dengan kelembaban 60-90 persen.

“Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi lingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus COVID-19. Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi COVID-19,” dia menerangkan.

Mengutip penelitian Bannister-Tyrrell et. al. (2020), Dwikorita juga mengungkapkan adanya korelasi negatif antara temperatur di atas 1 derajat celcius dengan jumlah dugaan kasus COVID-19 per-hari. Mereka menunjukkan bahwa bahwa COVID-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah, yakni 1-9 derajat celcius.

“Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah,” kata Dwikorita.

3. Udara dingin melemahkan imunitas seseorang

Luhut Sebut Corona Tak Kuat di Indonesia, Analisis BMKG MembenarkanIlustrasi hujan (IDN Times/Anata)

Dwikorita melanjutkan, berdasarkan penelitian Wang et. al. (2020), hasilnya mengatakan bahwa virus corona cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering.  Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan "host immunity" seseorang.

“Dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus,” katanya.

Baca Juga: Faisal Basri sebut Luhut Lebih Berbahaya dari COVID-19, Netizen Ramai

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya