Comscore Tracker

Massa Demo Dibatasi 50 Orang, YLBHI: Ciri Negara Otoriter

Undang-Undang tidak pernah membatasi jumlah demonstran

Jakarta, IDN Times - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) TitoKarnavian menyatakan jumlah pengunjuk rasa atau aksi penyampaian pendapat di muka umum sebaiknya dibatasi maksimal 50 orang, demi meminimalisirpenularan COVID-19.

Karena pernyatannya itu, Tito dianggap tidak paham konstitusi dan Undang-Undang Dasar 1945. Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhamad Isnur, menyarankan kepada Tito untuk kembali membaca Pasal 28 Ayat 1 UUD 1945 .

“Di sana dinyatakan bahwa pembatasan terhadap hak asasi manusia itu hanya boleh oleh Undang-undang, tidak bisa (instruksi) pemerintah bikin aturan semena-mena. Itu ciri-ciri negara otoriter,” kata Isnur saat dihubungi IDN Times, Sabtu (19/12/2020).

1. Dalam UU tidak ada pembatasan jumlah massa aksi unjuk rasa

Massa Demo Dibatasi 50 Orang, YLBHI: Ciri Negara OtoriterMassa aksi 1812 tiba di lokasi aksi pada Jumat (18/12/2020) (IDN Times/Fitang Budhi Adhitia)

Isnur menerangkan, undang-undang mana pun tidak mencantumkan pembatasan massa aksi unjuk rasa. Dia menilai pernyataan Tito mencederai Indonesia yang disebut sebagai tiga besar negara demokrasi di dunia.

“Pak Tito sebaiknya menghormati konstitusi dan juga menghormati UU kebebasan berpendapat di muka umum, yang tidak ada batasannya hanya 50 orang,” ujarnya.

Isnur menambahkan, kesalahan satu atau dua demonstrasi yang sifatnya gerakan politik tidak bisa disimpulkan dengan melarang seluruh kegiatan demonstrasi.

"Itu artinya membunuh demokrasi,” katanya.

Baca Juga: Pembatasan Jumlah Pengunjuk Rasa, Tito Karnavian: Batasi Saja 50 Orang

2. Pemerintah dinilai diskriminatif sebab melarang massa unjuk rasa tapi tetap menggelar Pilkada

Massa Demo Dibatasi 50 Orang, YLBHI: Ciri Negara OtoriterAksi unjuk rasa pendukung kepolisian untuk mengusut tuntas kasus Rizieq Shihab di depan Polda Metro (IDN Times/Irfan Fathurohman)

Isnur menilai pemerintah inkonsisten terhadap penegakan hukum bagi pelanggar protokol kesehatan. Dia mencontohkan Pilkada Serentak 2020.

“Pemerintah sendiri tidak tegas terhadap pandemik ini. Misalnya aksi demo gak boleh tapi Pilkada diperbolehkan. Masyarakat kan melihat tindakan diskriminatif, tidak adil,” tuturnya.

3. Mendagri Tito minta massa aksi unjuk rasa dibatasi maksimal 50 orang

Massa Demo Dibatasi 50 Orang, YLBHI: Ciri Negara OtoriterMendagri Tito Karnavian Rapat Koordinasi Kesiapan Pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 di Medan, Jumat (4/7). (IDN Times/Prayugo Utomo)

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan untuk meminimalisasi penularan COVID-19, jumlah pengunjuk rasa atau aksi penyampaian pendapat di muka umum sebaiknya dibatasi maksimal 50 orang.

"Kalau menurut saya, batasi saja 50 orang. Sama seperti kita membatasi (jumlah orang) di pemilihan kepala daerah (pilkada) kemarin," kata Tito saat menjadi pembicara dalam ajang penghargaan Innovative Government Awards (IGA) 2020 di Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA, Sabtu (19/12/2020).

Tito mengatakan apabila jumlah massa aksi demonstrasi tidak dibatasi, berpotensi terjadi penularan COVID-19 besar-besaran (superspreader). Karena itu aparat hukum harus membuat aturan tentang pembatasan jumlah maksimal pengunjuk rasa.

"Demo boleh, penyampaian pendapat di muka umum, freedom of expression, silakan. Tapi di dalam aturan. Aturan induknya, namanya ICCPR, International Covenant on Civil and Political Rights. Itu dokumen PBB, pasal 9, tidak menyebutkan tidak ada pembatasan, tetapi menyebutkan tidak ada intervensi," kata Tito

Tito mengatakan, selain akan meminimalisasi penularan COVID-19, pembatasan jumlah maksimal pengunjuk rasa juga akan mempermudah proses pelacakan atau tracing jika ada pengunjuk rasa yang kemudian diketahui positif COVID-19. Dengan begitu langkah-langkah berikutnya akan lebih mudah dilakukan.

Baca Juga: [BREAKING] 22 Peserta Aksi 1812 Reaktif COVID-19 Dibawa ke Wisma Atlet

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya