Comscore Tracker

Cerita Jusuf Kalla saat Merebut Posisi Ketum Golkar, Jago Lobi Politik

Menjadi Ketum Golkar demi stabilitas politik

Jakarta, IDN Times - Sepak terjang Jusuf Kalla dalam dunia politik tanah air membentang sejak tahun 60-an. Politikus senior yang kerap disapa JK itu bahkan dikenal jago dalam urusan lobi-lobi politik.

Keahlian dalam urusan lobi politik dibuktikan JK saat dirinya menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Dia menuturkan, hanya butuh waktu 5 hari untuk menjadi orang nomor satu di partai berlambang beringin tersebut.

1. Cerita JK saat terpilih menjadi Ketua Umum Golkar

Cerita Jusuf Kalla saat Merebut Posisi Ketum Golkar, Jago Lobi PolitikMunas Partai Golkar berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, 3-6 Desember 2019. (IDN Times/Fitang Budhi Adhitia)

Hal itu disampaikan JK saat berbincang dengan Helmy Yahya di YouTube channel-nya, dengan judul "Ngobrol Serius dan Becanda Ala JK" yang diunggah pada, Selasa (22/9/2020).

“Saya (jadi) Ketua Golkar urusnya kaya cuma 5 hari aja. Senin-Sabtu pemilihan, terpilih,” kata JK dalam perbincangan tersebut.

Baca Juga: Jusuf Kalla Sebut PSBB DKI Jakarta sebagai Harga Mati Lawan COVID-19  

2. Stabilitas politik jadi tujuan JK menjadi Ketum Golkar

Cerita Jusuf Kalla saat Merebut Posisi Ketum Golkar, Jago Lobi PolitikJusuf Kalla meminta semua pihak untuk introspeksi diri. IDN Times/ Alfi Ramadana

JK menuturkan, niatnya untuk menjadi Ketum Golkar saat itu adalah untuk menjaga kestabilan politik ketika dirinya menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhyono (SBY) di periode 2004-2009. Saat itu, kata dia, mereka hanya didukung oleh 11 persen kursi di DPR.

Kekuatan politik mereka dinilai JK sangat lemah saat itu, jika tidak ada dukungan dari partai lain, maka kebijakan yang akan diambil tidak bisa berjalan mulus. Oleh sebab itu, dengan kemahirannya dalam melakukan lobi politik, jabatan Ketum Golkar dengan mudah diraihnya.

“Jadi itu kalau terjadi apa-apa di DPR, kita bisa kalah voting. Maka saya mengatakan, bagaimana saya menjadi Ketua Golkar. Saya berusaha jadi Ketum Golkar, kemudian mengajak satu-dua partai lagi,” ujarnya.

3. JK tidak butuh kampanye saat pencalonan Ketum Golkar

Cerita Jusuf Kalla saat Merebut Posisi Ketum Golkar, Jago Lobi PolitikKetua PMI Jusuf Kalla Dok. Female Radio

JK menuturkan, Akbar Tanjung yang saat itu menjadi lawannya di Musyawarah Nasional (Munas) Golkar, sangat kecewa atas kekalahannya itu. JK pun menjadi Ketum Golkar periode 2004-2009 karena kelihaiannya dalam melakukan lobi politik.

"Beda sama orang sekarang kampanye ke mana-mana, saya tidak ada kampanye. Saya hanya menyampaikan, saya nanti bawa aspirasi Golkar ini,” tuturnya.

JK memulai karier politiknya pada tahun 1960-an, ketika ia menjabat sebagai ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) cabang Sulawesi Selatan periode 1960-1964. Dan kariernya berlanjut ketika dia terpilih menjadi Ketua HMI Cabang Makassar di tahun 1965-1966.

Karier politiknya mulai melambung ketika JK terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan periode 1965-1968) dan terpilih menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1982-1987 mewakili Golkar dan tahun 1997-1999 mewakili daerah.

Sebelum terpilih menjadi Ketum Golkar di tahun 2004, JK pernah menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI di masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Menko Kesra di era Presiden Megawati. JK juga dua kali menjabat sebagai Wakil Presiden pada era Susilo Bambang Yudhoyono di periode 2004-2009 dan era Joko “Jokowi” Widodo periode 2014-2019.

Saat ini, JK lebih memilih mengabdikan diri untuk masyarakat dengan menjabat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) dan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Baca Juga: Jusuf Kalla Paparkan Skema Penanganan COVID-19 di Sulsel

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya