Comscore Tracker

Guru Les Ditahan Gara-gara Status Tak Usah Pasang Foto Presiden 

Tersangka Asteria mengaku masih terbawa kondisi pemilu

Jakarta, IDN Times - Penyidik Polres Metro Jakarta Utara menetapkan Asteria Fitria, seorang guru les sebagai tersangka kasus ujaran kebencian di laman media sosial. Asteria ditetapkan sebagai tersangka karena mengunggah ajakan untuk tidak memasang foto Presiden di sejumlah media sosial.

Asteria mengunggah tulisan berbunyi, "Kalau boleh usul di sekolah-sekolah tidak usah lagi memajang foto Presiden & Wakil Presiden. Turunin aja foto-fotonya. Kita sebagai guru nggak mau kan mengajarkan anak-anak kita tunduk mengikuti dan membiarkan kecurangan dan ketidakadilan. Cukup pajang foto GOODBENER kita aja, Gubernur Indonesia Anies Baswedan."

Setelah menetapkan Asteria sebagai tersangka, polisi langsung melakukan penahanan. Berikut penuturan Kapolres Metro Jakarta Utara terkait kasus ini.

Baca Juga: [BREAKING] Divonis 2 Tahun Penjara, Ratna: Sarat Unsur Politik

1. Polisi melibatkan ahli ITE, ahli bahasa, dan ahli pidana

Guru Les Ditahan Gara-gara Status Tak Usah Pasang Foto Presiden pixabay.com

Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Budhi Herdi Susianto menjelaskan, Asteria ditetapkan sebagai tersangka setelah dilakukan penyelidikan yang melibatkan ahli ITE, ahli bahasa, dan ahli pidana.

"Adapun peristiwa ini dilakukan melalui media sosial, yakni oleh tersangka AF tanggal 26 Juni 2019 dengan cara mengunggah  di laman Facebook-nya dan media sosial lain milik yang bersangkutan," kata Budhi dalam konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Utara, Kamis (11/7), seperti dikutip dari Antara.

2. Asteria terancam hukuman pidana 6 tahun penjara

Guru Les Ditahan Gara-gara Status Tak Usah Pasang Foto Presiden IDN Times/Sukma Shakti

Pada 1 juli 2019, seorang warga berinisial TCS melaporkan unggahan Asteria, karena adanya dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Atas peristiwa tersebut, kami berpendapat, tersangka AF patut diduga melakukan pelanggaran pidana, baik UU ITE maupun UU hukum pidana," Budhi memaparkan.

Pasal yang dikenakan terhadap tersangka adalah Pasal 28 Ayat 2 Jo Pasal 45 huruf A ayat 2 UU RI No.19 tahun 2016 sesuai perubahan UU RI No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo pasal 14 ayat 1 atau ayat 2 atau pasal 15 UU RI no 1 tahun 46 tentang Peraturan Hukum Pidana atau pasal 160 KUHP atau pasal 207 KUHP.

"Ancaman hukuman pidana paling lama 6 tahun penjara atau denda maksimal Rp1 miliar," kata Budhi.

Dikatakan Budhi, karena ancaman hukumannya di atas lima tahun, maka tersangka dapat dilakukan penahanan.

"Oleh karena itu, saat tersangka ditangkap hari Selasa, ini sudah 1x24 jam. Sudah masuk penahanan," katanya.

3. Tersangka masih terbawa kondisi setelah Pemilu 2019

Guru Les Ditahan Gara-gara Status Tak Usah Pasang Foto Presiden ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak

Tersangka Asteria mengaku masih terpengaruh oleh lingkungan sekitar, terutama kondisi pasca-pemilu.

"Dia masih terbawa emosi, belum bisa menahan diri, sehingga mengunggahnya," katanya.

Sebelumnya, tersangka sempat diduga sebagai seorang guru di sebuah sekolah di Jakarta, namun setelah diperiksa, tersangka diketahui bukan guru sekolah.

Sesuai hasil penelusuran pihak kepolisian, Budhi mengungkap bahwa Asteria bukan guru sekolah. Dia diketahui sebagai wali murid di sekolah tersebut dan mengaku sebagai guru saat mengunggah tulisan bernada ujaran kebencian itu.

"Yang bersangkutan juga berprofesi sebagai guru, tapi guru les bimbingan belajar," ujar Kombes Budhi.

4. Asteria menyesal dan meminta maaf

Guru Les Ditahan Gara-gara Status Tak Usah Pasang Foto Presiden ANTARA/Fianda Rassat

Asteria Fitriani menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas unggahannya di media sosial. 

"Bersama ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat atas unggahan saya per tanggal 26 Juni 2019 yang membuat keresahan di masyarakat," kata Asteria yang ikut serta dalam konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Utara.

Dia mengaku menyesal tidak bijak berucap di media sosial dan tidak mempertimbangkan dampak unggahanya.

"Saya tidak ada niat sama sekali untuk menghasut atau mengajak orang melakukan sesuatu yang seperti disangkakan masyarakat," tuturnya.

Baca Juga: Menkumham Sebut UU ITE Tidak Layak Dikenakan ke Baiq Nuril

Topic:

  • Irwan Idris

Just For You