Comscore Tracker

MUI Belum Putuskan Protokol Kesehatan New Normal di Tempat Ibadah

"Kita tidak mau terburu-buru," kata Wasekjen MUI

Jakarta, IDN Times - Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum menetapkan pola baru penyelenggaraan ibadah atau aktivitas keagamaan di tempat ibadah. Protokol kesehatan normal baru atau new normal di tengah pandemik kini masih dibahas.

Wakil Sekretaris Jenderal MUI bidang fatwa KH Sholahuddin Al Aiyub mengatakan, MUI juga tengah mengevaluasi efektivitar aturan pemerintah seputar COVID-19. Hasil evaluasi kaan diserahkan kepada pemerintah dalam bentuk rekomendasi.

"Kita tidak mau terburu-buru,” kata Wakil Sekretaris Jenderal MUI bidang fatwa, KH Sholahuddin Al Aiyub melalui siaran tertulis, Kamis (28/5).

1. Keselamatan jiwa masyarakat harus diutamakan

MUI Belum Putuskan Protokol Kesehatan New Normal di Tempat IbadahWarga menggelar shalat Idulfitri di masjid yang ada di Kota Gorontalo, Minggu (24/5). ANTARA FOTO/Debby Mano

Sholahuddin mengungkapkan bahwa MUI mengutamakan keselamatan jiwa masyarakat daripada kepentingan lain, bahkan masalah keagamaan sekalipun. Pihaknya mempertimbangkan alternatif rukhsoh atau kemudahan dalam hal keagamaan.

 “Sementara kalau untuk menjaga jiwa masyarakat atau umat Islam itu tidak ada alternatif lain. Maka dalam hal ini, MUI ingin mendahulukan itu (perlindungan jiwa masyarakat). Kesimpulan seperti apa, saat ini masih digodok,” kata dia.

Baca Juga: Fatwa MUI: Zakat di Masa Pandemik Bisa Diberikan dalam Bentuk APD

2. Perlu pendekatan mikro untuk menentukan daerah mana yang boleh melaksanakan aktivitas keagamaan di rumah ibadah

MUI Belum Putuskan Protokol Kesehatan New Normal di Tempat Ibadah(ANTARA FOTO)

Menurut Sholahuddin, penentuan pelaksanaan aktivitas keagamaan di rumah ibadah harus melalui pendekatan mikro. Bukan pendekatan secara nasional, melainkan bagaimana situasi di masing-masing wilayah.

“Kondisi daerahnya seperti apa, tingkat penyebarannya seperti apa, karena ini variabel yang penting,” tutur dia.

3. Pemahaman tentang protokol kesehatan masyarakat sudah cukup baik

MUI Belum Putuskan Protokol Kesehatan New Normal di Tempat Ibadah(ANTARA FOTO)

Sholahuddin mengaku heran dengan kurva kasus COVID-19 yang masih menunjukkan tingginya penularan. Padahal, menurut dia, tingkat kepatuhan dan pemahaman masyarakat, khususnya umat Islam, terhadap protokol kesehatan sudah cukup bagus, contohnya pada saat melaksanakan salat Idulfitri akhir pekan lalu.

“Kita mendapat laporan, aspek protokol kesehatan menjadi pertimbangan utama para jemaah untuk melakukan salat Ied,” ujar dia.

4. Variabel kepatuhan protokol kesehatan akan menjadi pertimbangan penting MUI, sebelum memberikan rekomendasi pada pemerintah

MUI Belum Putuskan Protokol Kesehatan New Normal di Tempat IbadahPedagang Pasar Kebon Semai Sekip Palembang mengikuti rapid test pasca meninggalnya satu rekan mereka suspect COVID-19. (IDN Times/ Deryardli Tiarhendi)

Sholahuddin menjelaskan, banyak umat Muslim saat itu yang tidak menggelar salat Ied dalam kapasitas yang besar. Mereka menggelar salat Ied di lingkup yang kecil seperti di area perumahan dengan membagi per blok atau klaster.

Dalam kondisi demikian, Sholahuddin mengakui, memang seharusnya ada dampak terhadap kurva kasus COVID-19. Tetapi nyatanya, masih belum berdampak pada penurunan grafik penularan COVID-19, bahkan relatif tinggi. Karena itu, MUI ingin mengkajinya secara mendalam.

"Variabel kepatuhan protokol medis sudah bagus tetapi kok penularan masih tinggi, ini sebenarnya karena apa? Informasi-informasi ini akan menjadi pertimbangan yang penting, untuk merumuskan rekomendasi MUI kepada pemerintah," ujar dia.

Baca Juga: MUI: Surat Penolakan Rapid Test untuk Ustaz dan Ulama Hoaks!

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya