Comscore Tracker

Fakta dan Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak

Tersangka sakit hati setelah korban mengungkit soal utang

Jakarta, IDN Times - Kasus pengeroyokan siswi SMP di Pontianak bermula dari sindir-menyindir antara pelaku dan korban AY (14). Tersangka yang diketahui masih duduk di bangku SMA tersinggung setelah saling sindir tentang cowok. 

Kapolresta Pontianak, Kombes M Anwar Nasir lantas menjelaskan kronologi kekerasan di antara siswa sekolah yang menjadi sorotan, baik di Tanah Air maupun internasional. Dalam kasus ini, polisi sudah menetapkan 3 tersangka, yakni EC, LL, dan TR.

"Kasus ini berawal karena korban dan pelaku saling sindir menyindir tentang mantan pacar pelaku yang merupakan pacar sepupu korban," jelas Anwar dalam konferensi pers yang juga disiarankan langsung di akun Instagram @kapolresta_ptk_kota.

Lebih lanjut, kata Anwar, salah satu orang tua pelaku juga pernah meminjam uang sebesar Rp500 ribu pada korban. "Meski sudah dikembalikan, korban suka mengungkit-ungkit sehingga pelaku tersinggung," jelasnya.

Baca Juga: Tak Hanya Indonesia, Artis Internasional Beri Dukungan untuk Audrey

1. Pelaku dan korban berjanji akan bertemu untuk menyelesaikan masalah pada 29 Maret 2019

Fakta dan Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di PontianakIntagram/ kapolresta_ptk_kota

Menurut Kombes M Anwar,  penganiayaan tersebut terjadi pada Jumat, 29 Maret pukul 14.30 WIB. Bermula saat salah satu tersangka mengirimkan pesan pada korban untuk bertemu menyelesaikan masalah. Kemudian, korban dijemput saksi D dan P lantas bonceng bertiga menggunakan sepeda motor menuju kawasan belakang Paviliun Informa, Jalan Sulawesi, Pontianak.

Sampai di lokasi, sudah menunggu tiga tersangka, yakni EC, LL, dan TR beserta remaja lain yang tidak dikenal korban, keseluruhan sekitar 10 orang.

"Tersangka TR langsung menanyakan kepada korban 'Kamu ngomong apa' dan tiba-tiba dari arah belakang kepala korban disiram. Korban membalas dengan menjambak rambut EC kemudian EC menendang bagian belakang korban. Korban terjatuh dan sempat akan melawan, namun kembali dipukul," papar dia.

Korban sempat lari bersama P, sepupunya tadi, menuju jalan dekat Taman Akcaya, namun dikejar oleh pelaku. TR memperlihatkan chatt sambil memiting leher dan memukul kepala korban. Kemudian pelaku LL datang, menendang wajah, dan menampar pakai sendal," jelas Kapolresta Pontianak tersebut.

Baca Juga: Jokowi Soal Audrey: Saya Perintahkan Kapolri Tegas Menangani Ini!

2. Pelaku tekan organ vital korban

Fakta dan Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak(ilustrasi) IDN Times / Sukma Shakti

Setelah itu, pada saat korban AY jatuh, EC sempat menekan organ vital korban. Kala itu, korban mengakui semat merasa nyeri di bagian alat vital. 

Untunglah, saat itu muncul warga yang lewat sehingga para pelaku langsung pergi. "Selanjutnya, korban menceritakan masalah ini ke kakak ipar yang kemudian menceritakan hal tersebut ke ibu korban," ucap dia.

3. Keluarga pelaku minta mediasi tapi berujung buntu

Fakta dan Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak(ilustrasi) IDN Times / Sukma Shakti

Anwar menambahkan,  ibu korban melaporkan kasus ini ke Polsek Pontianak Selatan pada 5 April lalu. Korban pun langsung diambil tindakan visum di RS Bhayangkara yang kemudian dilaporkan sebagai pengaduan untuk penyelidikan.

Kanit Lidik langsung memeriksa pelapor, korban, dan terlapor. "Pada 5 April ada juga upaya mediasi, dari keluarga pelaku mendekati korban untuk melakukan upaya mediasi, namun buntu," kata dia.

Kemudian pada 8 April 2019, Polsek Pontianak Selatan melimpahkan pengaduan perkara ke Polresta Pontianak untuk ditangani Satreskrim Unit PPA sebab di Polsek tidak ada unit PPA. 

"Pada 8 April dilakukan Laporan Polisi dan BAP dari ibu korban, kemudian membuat permintaan rekam medis karena kejadian sudah seminggu lewat ke RS Mitra Medika, tempat korban check up dan RS Promedika tempat korban dirawat inap sejak 6 April," jelas Anwar.

Pada 9 April, pihak Polresta Pontianak melakukan interogasi tambahan terhadap korban di RS Promedika dan terhadap para pelaku.

Baca Juga: Wali Kota Makassar Pamer Prestasi di Akhir Masa Jabatan

4. Fakta: hasil visum tunjukkan tidak ada luka memar di organ vital

Fakta dan Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak(ilustrasi) IDN Times / Sukma Shakti

Hasil visum korban AY juga menguak fakta bahwa yang bersangkutan tidak mengalami cedera pada bagian vital. Hal ini juga sekaligus meluruskan pemberitaan yang sudah menyebar dan menyebut bahwa alat kelamin AY cedera oleh perbuatan para tersangka. 

"Berdasarkan hasil pemeriksaan visum yang dikeluarkan Rumah Sakit Promedika Pontianak per hari ini, Rabu (10/4), kondisi kepala tidak ada bengkak atau benjolan, mata tidak ada memar, penglihatan normal, THT nyeri tekan lokasi nasal anterior tidak ditemukan darah, dada tampak simetris tidak ada memar atau bengkak, jantung dan paru dalam batas normal, perut datar tidak ditemukan memar, bekas luka tidak ditemukan, organ dalam abdomen tidak ada pembesaran, selaput dara tidak tampak luka robek atau memar, kulit tidak ada memar lebam maupun bekas luka. Hasil diagnosa awal, pasien depresi pasca-trauma," kata Kapolresta Pontianak itu sambil membacakan hasil visum melalui layar gawainya.

Menurut Anwar, kronologi di atas adalah sementara hasil dari interogasi korban dan orang tua korban.

"Pemeriksaan masih berjalan, kita masih menunggu BAP para calon pelaku yang sementara masih di KPPAD . Kita tinggal mensinkronkan antara keterangan para saksi, maupun korban, maupun para pelaku. Kesesuaian inilah yang akan menjadi kronologis sebenarnya," papar M. Anwar.

Selanjutnya, Anwar pun mengungkapkan kondisi terakhir korban sudah membaik, namun mengalami trauma.

"Korban mengaku tidak berani sampai saat ini untuk ketemu dengan pelaku, itu traumatiknya," jelas dia.

5. Ancaman hukuman bagi pelaku penganiayaan

Fakta dan Kronologi Pengeroyokan Siswi SMP di PontianakInstagram.com/its.chelsy

Karena semua tersangka masih tergolong anak-anak,  menurut Anwar, pasal yang nantinya dijeratkan adalah Pasal 80 ayat 1 dan/atau ayat 2 UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Ayat 1 terkait penganiayaan ringan dengan ancaman hukuman 3 tahun 6 bulan (diversi), sementara Ayat 2 terkait penganiayaan berat dengan ancaman hukuman 5 tahun (diversi).

"Kami akan terus melakukan koordinasi dengan KPPAD terkait hal ini," ujar dia.

Baca Juga: Dianggap Giring Opini Kasus Audrey, KPPAD Laporkan Akun Ini

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Just For You