Comscore Tracker

Setelah Kapolda Sultra, Giliran Kapolres Kendari Dimutasi

Buntut dari demo berujung tewasnya seorang mahasiswa?

Jakarta, IDN Times - Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian memutasikan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kendari, AKBP Jemi Junaidi. Sebelumnya, Polri juga sudah memutasi Brigjen Iriyanto dari jabatan Kapolda Sulawesi Tenggara. 

Jemi dimutasikan menjadi Kepala Bagian Pengendalian Personel Biro SDM Polda Kalimantan Tengah (Kalteng). Hal itu tertuang dalam surat telegram Kapolri bernomor ST/2657/X/KEP./2019 yang telah ditandatangani oleh Asisten Bidang SDM (As SDM) Kapolri Irjen Eko Indra Heri. Surat itu terbit pada Senin (7/10).

Kini, posisi Kapolres Kendari diisi oleh AKBP Didik Efrianto yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Wakatobi.

Baca Juga: Usai Dua Mahasiswa Kendari Meninggal, Kapolda Sultra Dicopot

1. Apakah mutasi Kapolres Kendari terkait tewasnya mahasiswa dan ikut tertembaknya seorang ibu hamil?

Setelah Kapolda Sultra, Giliran Kapolres Kendari DimutasiDokumen Istimewa

Sama seperti mutasi Kapolda Sultra, beberapa waktu lalu, rotasi Kapolres Kendari ini dikaitkan dengan demo berujung bentrok dan jatuhnya korban jiwa di Kantor DPRD, 26 September lalu.

Kala itu, mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Halu Oleo (UHO) bernama Randi (21) tewas usai berunjuk rasa. Ia tewas karena tertembak peluru tajam. Tak hanya Randi, seorang ibu hamil juga tertembak di bagian kakinya.

Terkait hal itu, Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sultra, AKBP Harry Goldenthard menegaskan, mutasi merupakan hal yang biasa dalam institusi Korps Bhayangkara.

"(Mutasi Jemi) Dalam rangka tour of duty dan area, serta untuk meningkatkan kinerja organisasi dan dalam rangka binkar (pembinaan karir)," tegasnya saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (7/10) malam.

Baca Juga: Olah TKP Mahasiswa Tertembak, Polisi Temukan Tiga Selongsong Peluru

2. Enam polisi terbukti membawa senpi saat amankan demo di Kendari

Setelah Kapolda Sultra, Giliran Kapolres Kendari DimutasiBrigjen Pol.Hendro Pandowo (IDN Times/Axel Jo Harianja)

Tim investigasi Polri sebelumnya mengungkap kasus kematian Randi (21) saat demonstrasi yang berakhir ricuh di depan gedung DPRD Sultra. Kepala Biro (Karo) Provost Divisi Propam Polri Brigjen Pol Hendro Pandowo mengatakan, mahasiswa itu tewas karena tertembak.

"Kami tetapkan enam anggota jadi terperiksa, karena saat unras (unjuk rasa) membawa senjata api," ujar Hendro dalam keterangan tertulis yang diterima IDN Times, Jakarta, Kamis (3/10).

Hendro menjelaskan, keenam polisi itu membawa senjata api laras pendek jenis SNW dan HS. Mereka yang berasal dari Polda Sultra dan Polres Kendari berinisial DK, GM, MI, MA, H, dan E.

"Ini kita dalami kenapa senjata itu dibawa saat pengamanan unras, padahal sudah disampaikan Kapolri untuk tidak bawa senjata," tutur dia.

Tim Polri masih menelusuri penembak mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sultra itu. Dalam olah tempat kejadian perkara (TKP) di Jalan Abdullah Silondae, Kendari, polisi menemukan tiga selongsong peluru di saluran drainase depan kantor Disnakertrans Sultra pada Sabtu (28/9) lalu.

3. Dokter forensik pastikan Randi tewas karena senjata api

Setelah Kapolda Sultra, Giliran Kapolres Kendari DimutasiIDN Times/Indah Permata Sari

Tim gabungan dokter forensik yang melakukan autopsi memastikan Randi tewas karena terkena tembakan senjata api. Tak hanya Randi, mahasiswa bernama Muh Yusuf Kardawi,19, juga meninggal dunia dalam demonstrasi di Sultra.

Dilansir Antara, Yusuf meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bahteramas Kendari, Sultra. Ia meninggal akibat luka dari benda tumpul.

Baca Juga: Ricuh di Kendari, Polisi Akui Tembak Seorang Ibu

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Just For You