Comscore Tracker

Millennial, Ini 3 Pelajaran Berharga dari Tragedi Mei 1998

Tragedi memang terjadi 21 tahun lalu tapi sarat memori kelam

Jakarta, IDN Times - Tragedi Mei 1998 sudah 21 tahun berlalu. Meski begitu, insiden berdarah itu telah meninggalkan jejak begitu kelam di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Kamu sebagai millennial mungkin tidak bersinggungan langsung dengan kerusuhan Mei 1998. Tapi, ada banyak pelajaran penting dan berharga yang bisa kamu petik loh.

Seperti yang diungkapkan oleh seorang saksi sejarah tragedi Mei 1998 bernama Christianto Wibisono ini.

1. Bergaul tanpa pandang bulu

Millennial, Ini 3 Pelajaran Berharga dari Tragedi Mei 1998IDN Times/Kevin Handoko

Menurut Wibisono pelajaran pertama adalah menjalin pergaulan antar sesama tanpa pandang bulu. "Pergaulan antar etnis dan antar apapun sudah tidak lagi terhambat dengan hal tersebut," ujar pendiri mingguan Ekspres, cikal bakal majalah Tempo itu saat berbincang dengan IDN Times, baru-baru ini.  

Baca juga: Dua Dekade Tragedi Semanggi, Ibu Ini Masih Mencari Keadilan untuk Anaknya

2. Hidup harmonis dalam perbedaan

Millennial, Ini 3 Pelajaran Berharga dari Tragedi Mei 1998IDN Times/Kevin Handoko

Wibisono mengatakan Indonesia adalah negara yang kaya budaya. Hal itu dipengaruhi karena beragamnya etnis, suku, dan ras yang sudah hidup berdampingan di Indonesia sejak lama.

"Sebenarnya sudah 100 tahunan hidup bersama. Hidup bersama ini bukan hanya setelah Indonesia merdeka, namun juga sebelum Indonesia merdeka," ucap pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1945 tersebut.

3. Saling menghormati

Millennial, Ini 3 Pelajaran Berharga dari Tragedi Mei 1998IDN Times/Kevin Handoko

Dengan ada adanya keberagaman yang hidup berdampingan di Indonesia, kata Wibisono, diharapkan masyarakat Indonesia dapat hidup secara harmonis. "Bagaimana kita bisa hidup yang baik dan dapat harmonis," ujar dia. 

Salah satu cara yang dapat menciptakan keharmonisan hidup dalam keberagaman adalah adanya sikap saling menghormati. Hal-hal yang berbau sentimen tidak perlu lagi terjadi.

"Kalau saling menghormati, tidak perlu terjadi sentimen, karena berbeda ras, beda agama dan beda suku," ucap Wibisono.

Tragedi Mei 1998 merupakan kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi pada 13-15 Mei 1998, khususnya di Ibu Kota, namun juga terjadi di beberapa kota lain. Kerusuhan ini diawali dengan krisis moneter di Asia dan dipicu tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa saat demonstrasi 12 Mei 1998. Tragedi ini diakhiri dengan penurunan jabatan Presiden Soeharto.

Baca juga: Dua Dekade Tragedi Semanggi, Ibu Ini Masih Mencari Keadilan untuk Anaknya

 

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya