Comscore Tracker

Bisa Diganti, 5 Hukum Puasa Ramadan untuk Ibu Hamil

Ada konsekuensi hukum tergantung kondisi ibu hamil

Umat Muslim diwajibkan berpuasa di bulan Ramadan. Tapi bagaimana dengan wanita yang hamil yang butuh nutrisi untuk janinnya? 

Ada wanita hamil yang tidak bermasalah dengan keadaan fisiknya dan bayi, sehingga bisa berpuasa dengan lancar. Sebagian lagi yang fisiknya lemah dan khawatir dengan buah hati memilih tak puasa.

Islam mengajarkan konsekuensi hukum berbeda untuk kedua kondisi tersebut. Berikut penjelasannya.

1. Wajib qadha tanpa fidyah bagi ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan dirinya sendiri

Bisa Diganti, 5 Hukum Puasa Ramadan untuk Ibu Hamilpexels/lucas mendes

Ibu yang khawatir terhadap diri atau kondisi fisiknya bisa berpuasa jika tak mampu. Sebagai ganti, dia harus melakukan qadha di hari lain jika sudah sanggup puasa. Mereka tidak diwajibkan membayar fidyah, seperti dijelaskan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 184:

“Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 184)

Kondisi itu serupa dengan orang sedang sakit dan menghkhawatirkan keadaan dirinya.  Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan:

“Kami tidak mengetahui ada perselisihan di antara ahli ilmu dalam masalah ini, karena keduanya seperti orang sakit yang takut akan kesehatan dirinya.” (al-Mughni: 4/394)

2. Hukumnya sama bagi ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan dirinya dan buah hati

Bisa Diganti, 5 Hukum Puasa Ramadan untuk Ibu Hamilpexels/Garon Picelli

Kondisi selanjutnya, yakni ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan diri dan buah hatinya. Dia wajib melakukan qadha saja di hari lain sebanyak hari puasa yang ditinggalkan. 

Hal ini ditegaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’: 6/177, dinukil dari majalah Al Furqon. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

“Para sahabat kami (ulama Syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang hamil dan menyusui, apabila keduanya khawatir dengan puasanya dapat membahayakan dirinya, maka dia berbuka dan mengqadha. Tidak ada fidyah karena dia seperti orang yang sakit dan semua ini tidak ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah). Apabila orang yang hamil dan menyusui khawatir dengan puasanya akan membahayakan dirinya dan anaknya, maka sedemikian pula (hendaklah) dia berbuka dan mengqadha, tanpa ada perselisihan (di antara Syafi’iyyah).'”

3. Untuk ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan sang buah hati, maka bisa membayar qadha saja

Bisa Diganti, 5 Hukum Puasa Ramadan untuk Ibu Hamilunsplash/@mieldalabeja

Kondisi ini berati sang ibu mampu menunaikan puasa Ramadan. Namun dia khawatir membayakan bayinya berdasarkan dugaan kuat. Atau telah ada bukti puasa akan membahayakan kedua pihak.

Syaikh Bin Baz dan Syaikh As-Sa’di rahimahumallah pun berpendapat,

"Sama sebagaimana kondisi pertama dan kedua, yakni sang wanita hamil atau menyusui ini disamakan statusnya sebagaimana orang sakit".

Oleh karena itu, ibu hanya wajib membayar utang puasa dengan qadha layaknya kondisi satu dan dua.

Baca Juga: 5 Cara Mudah Khatam Al-Qur'an Selama Bulan Ramadan

4. Ada pula dalil lain yang mengatakan bahwa ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan bayinya, wajib membayar fidyah saja

Bisa Diganti, 5 Hukum Puasa Ramadan untuk Ibu Hamilpexels/Leah Kelley

Dalam kondisi yang sama, terdapat dalil lain yang menyatakan bahwa ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan bayinya, wajib membayar fidyah saja. Dalil tersebut merupakan perkataan Ibnu Abbas radhiallahu ’anhu yang berbunyi,

“Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” ( HR. Abu Dawud)

5. Dalam dalil yang lain, ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan bayinya, wajib melakukan qadha dan membayar fidyah

Bisa Diganti, 5 Hukum Puasa Ramadan untuk Ibu Hamilpixabay/stocksnap

Mengenai kondisi ini, para ulama juga berpendapat bahwa ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan bayinya, tetap wajib melakukan qadha karena tidak ada dalam syariat yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya.

Ibnu ‘Umar radhiallahu ’anhu pun ketika ditanya tentang wanita hamil yang khawatir terhadap anaknya, beliau menjawab,

“Hendaklah berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap hari yang ditinggalkan.”

Demikianlah informasi mengenai hukum puasa di bulan Ramadan yang harus dilaksanakan bagi ibu hamil dan menyusui. Semoga Allah memberi kesabaran dan kekuatan bagi para ibu untuk tetap melaksanakan puasa atau ketika membayar puasa dan membayar fidyah tersebut di hari-hari lain sambil merawat para buah hati tercinta.

Baca Juga: 5 Kegiatan Berpahala Bagi Ibu Hamil & Menyusui di Bulan Ramadan

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya