TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Riwayat Akulturasi dan Asimilasi Masyarakat Tionghoa di Sulsel

Berlangsung selama 5 abad, kini menjadi bagian integral

Foto Klenteng Thian Hou Kong di Kota Makassar antara tahun 1900 dan 1920. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Makassar, IDN Times - Masyarakat Tionghoa merupakan bagian yang penting dalam perkembangan Kota Makassar sejak abad ke-16. Dibuka dengan kedatangan saudagar asal China di pelabuhan Gowa-Tallo, akulturasi budaya kemudian terjadi yang jejaknya masih bisa dilihat hingga sekarang.

Sejarawan Yenni Irawan dalam buku Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar (KPG, 2013) merekam dengan saksama proses akulturasi dan asimilasi mereka selama sekitar 500 tahun. Politik, ekonomi, seni-budaya hingga olahraga menjadi bidang di mana mereka ikut berperan penting.

Lantas seperti apa proses akulturasi tersebut? Berikut IDN Times membahasnya secara lengkapn untuk pembaca.

1. Masyarakat Sulsel menyebut orang Tionghoa dengan kata "Sanggalea"

Lukisan tentang kehidupan sehari-hari penduduk China pada era abad ke-12 hingga ke-14. (Wikimedia Commons)

Nama Makassar muncul dalam lampiran catatan kuno China dalam kronik masa dinasti Yuan antara tahun 1297-1301 yang berjudul "Barang-barang yang dibawa oleh kapal-kapal asing" dengan pelafalan Meng-jia-shi. Meskipun demikian, tidak ada informasi yang menyebutkan kehadiran orang Tionghoa pertama di Sulsel. Tapi itu tidak serta merta menjadi rujukan pada sejarawan atas kontak pertama pegadang Sulsel dengan China.

Masuk abad ke-16, masyarakat Sulsel menggunakan panggilan Sanggalea untuk menyebut orang-orang Tionghoa. Asal-usulnya memang masih abu-abu, lantaran terkait dengan kata "Sangley" yang sering digunakan oleh penduduk Kepulauan Filipina.

"Etimologi kata ini kurang jelas, namun menarik untuk dicatat dari sebuah naskah Sino-Filipina abad ke-16 yang menggambarkan sepasang orang Tionghoa yang menggunakan nama 'Sangley', yang dilengkapi dengan dua buah huruf Tionghoa 'Changlai' yang berarti 'sering datang'," tulis Yenni.

2. Para saudagar Tionghoa kemudian menjadi bagian penting dalam ekonomi Gowa-Tallo

Peta Makassar dan Kerajaan Gowa-Tallo pada tahun 1638 menurut buku "Secret Atlas of the East India Company." (Wikimedia Commons)

Sejarawan Universitas Negeri Makassar (UNM), Bahri, menyebut bahwa jejaring ekonomi kelompok Tionghoa di Makassar, termasuk di luar Makassar dan Sulawesi, sudah terbangun sejak abad ke-18. Etos kerja nan ulet membawa mereka sukses di bidang usaha yang digeluti.

"Pedagang-pedagang Tionghoa memberikan semangat kerja bagi pertumbuhan kota-kota besar, termasuk Makassar. Bahkan menurut orang di sini, jika suatu daerah sudah dimasuki oleh orang Tionghoa, maka akan maju," papar Bahri dalam sebuah wawancara pada Februari 2021.

Masuk separuh akhir ke-16, para saudagar China tak lagi bolak-balik. Mereka memilih bermukim di Gowa-Tallo agar lebih leluasa mengatur perdagangan. Hikayat Sja'ir Perang Mengkasar yang ditulis Encik Amin, juru tulis Sultan Hasanuddin, bahkan secara eksplisit mengatakan bahwa pasukan VOC menembaki Kampung Tjina dengan meriam dalam peperangan tersebut.

3. Sejarah mencatat banyak kapitan penting dalam sejarah Tionghoa di Makassar

Suasana kawasan Pecinan di Kota Makassar antara tahun 1898 hingga 1902. (Tropenmuseum, part of the National Museum of World Cultures)

Generasi awal Tionghoa yang datang sebagai saudagar lambat laun berhasil memperoleh posisi yang signifikan dalam lingkar Kesultanan Gowa-Tallo. Kehadiran mereka menjadi  penggerak ekonomi, terlebih kebijakan Gowa-Tallo yang memberlakukan perdagangan bebas tanpa monopoli.

Pada masa VOC dan era kolonial Hindia-Belanda, jabatan "kapitan" menjadi peran utama sebagai pemimpin komunitas Tionghoa. Para kapitan ini umumnya memiliki kekuatan ekonomi dan politik yang besar, serta bertanggung jawab dalam menyelesaikan perselisihan dalam perdagangan dan komunitas Tionghoa.

Dalam sejarah, tercatat beberapa kapitan Tionghoa Makassar yang menjabat pada berbagai periode. Antara lain, Oeikoeko pada paruh kedua abad ke-16, Ong Goat Ko (1679-1701), Ongkiego (1701-1732), Ongkingsay (1732-1738), Lijauko (1738-1748/49), dan banyak lagi. Posisi ini memberikan mereka peran penting dalam membentuk dinamika ekonomi dan politik di wilayah tersebut selama periode tersebut.

Baca Juga: Sejarah Awal Tionghoa di Makassar, Perdagangan dan Sebutan Sanggalea

Berita Terkini Lainnya