Comscore Tracker

3 Jenis Gender Selain Pria dan Wanita yang Diakui Suku Bugis

Bugis dikenal sebagai suku perantau

Sulsel, IDN Times - Sulawesi Selatan menjadi rumah bagi sejumlah suku  yang masing-masing memiliki adat-istiadat maupun kearifan lokal masing-masing. Salah satu yang besar adalah Suku Bugis.  

Salah satu kearifan lokal unik yang dimiliki oleh masyarakat Bugis adalah pengakuan gender yang lain, di luar pria dan wanita. Ya, selain dua gender umum itu, masyarakat Bugis juga mengakui tiga gender lain? Apa saja? 

1. Sekilas tentang suku Bugis

3 Jenis Gender Selain Pria dan Wanita yang Diakui Suku Bugiscermati.com

Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai gender-gender yang diakui suku ini, ada baiknya kamu memiliki informasi dasar dulu mengenai Bugis. Suku ini mendiami sebagian besar wilayah di Sulawesi Selatan, namun kini sudah banyak menyebar ke beberapa daerah lain di Indonesia hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura.

Suku Bugis termasuk dalam kategori suku Melayu Deutero yang masuk dari benua Asia ke Nusantara melalui jalur darat dan diyakini nenek moyangnya berasal dari Yunan.

Kata Bugis berasal dari kata “to ugi”, yang artinya orang-orang Ugi. Ugi merupakan nama raja pertama dari kerajaan Tiongkok yang terdapat di Pamanna (saat ini dikenal dengan Kabupaten Wajo), yakni “La Sattumpugi” atau Ugi, di mana orang-orang pada saat itu menyebut diri mereka sebagai pengikut Ugi atau to Ugi.

Selain dikenal sebagai bangsa perantau, orang Bugis sangat menjunjung tinggi harga diri atau yang dikenal dengan konsep “siri”. Ada sebuah pepatah Bugis yang terkenal yang berbunyi, “siri paranreng, nyawa pa lao,” yang artinya "jika sebuah harga diri telah ternodai, maka nyawa yang akan jadi bayarannya."

Makanya, zaman dulu jika ada anggota keluarga yang melakukan perbuatan tercela hingga memalukan nama keluarga, maka ia harus diusir atau dibunuh.

Baca Juga: Mengenal Cenning Rara, Tradisi Mantra Pemikat Hati dari Bugis-Makassar

2. Salah satu yang menarik dari masyarakat adat Bugis adalah perihal 5 jenis gender yang diakui

3 Jenis Gender Selain Pria dan Wanita yang Diakui Suku BugisWikimedia.org/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen

Setiap suku memiliki keunikan tersendiri, tidak terkecuali masyarakat suku Bugis. Suku ini mengakui adanya 5 jenis gender atau para-gender. Selain pria (oroane) dan wanita (makunrai), jenis gender yang mereka akui adalah calalai, calabai, dan bissu.

Selain itu, masyarakat Bugis juga mengakui 3 jenis status biologis, yakni laki-laki, perempuan, dan hemafrodit yang memiliki alat kelamin laki-laki dan perempuan. 

3. Gender Calalai

3 Jenis Gender Selain Pria dan Wanita yang Diakui Suku Bugisrakyatku.com

Calalai adalah seorang perempuan yang mengambil peran sebagai pria di dalam kesehariannya, misalnya berpakaian seperti pria hingga mengerjakan pekerjaan layaknya pria.

Uniknya, seorang calalai tidak akan dinggap sebagai pria dan tidak berharap pula untuk menjadi seorang pria.

4. Gender Calabai

Kemudian ada yang disebut dengan calabai, yakni kebalikannya dari calalai, di mana seorang pria yang menyerupai wanita. Sama halnya seperti calalai, dimana seorang calabai tidak dianggap sebagai wanita.

Dalam kesehariannya, seorang calabai merupakan orang yang ahli dalam mengatur pernikahan.

5. Gender Bissu

3 Jenis Gender Selain Pria dan Wanita yang Diakui Suku Bugiswikipedia.org/Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan

Terakhir, bissu. Gender ini merupakan perpaduan dari laki-laki dan perempuan. Bissu merupakan sosok spiritual yang dipercaya dapat menghubungkan manusia dan dewa. Untuk menjadi seorang bissu, seseorang bisa saja terlahir sebagai laki-laki maupun perempuan.

Kombinasi gender tersebut memiliki makna filosofis yang mengacu pada naskah klasik La Galigo. Pada naskah tersebut memuat makna simbolik dimana seorang manusia sempurna sebagai penyelamat masyarakat didahului dengan simbol wanita lalu kemudian simbol pria. Secara harfiah, dapat diartikan bahwa  manusia sempurna adalah manusia yang memiliki unsur wanita dan pria secara seimbang dalam dirinya.

Seorang bissu kerap ditemui dengan memakai badi’ (pisau) yang layaknya dikenakan laki-laki, namun pada saat yang sama memakai bunga di rambutnya layaknya perempuan. Peran bissu  di masyarakat adalah untuk memberikan berkah pada kegiatan masyarakat. Biasanya masyarakat meminta berkah kepada bissu saat sebelum mulai menanam padi atau panen.

Artikel ini tidak bermaksud untuk membenarkan atau menyalahkan gender seseorang. Melainkan untuk menunjukkan bahwa di dalam ternyata perbedaan gender tidak lantas menjadi hambatan untuk bersikap toleran kepada satu sama lain bagi masyarakat suku Bugis. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, peran masing-masing sangat dibutuhkan.

Demikianlah lima gender yang diakui di Suku Bugis. Salam toleransi!

Artikel ini pertama kali ditulis oleh darajingga di IDN Times Community dengan judul Selain Pria dan Wanita, Ini 3 Jenis Gender Lain ala Suku Bugis

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Just For You