Comscore Tracker

Rumah Sakit di Thailand Diberi Izin Produksi Obat-obatan dari Ganja

Perusahaan Belanda menawarkan diri membantu Thailand

Jakarta, IDN Times - Rumah sakit di semua provinsi yang ada di Thailand diperbolehkan memproduksi obat-obatan berbahan dasar ganja. Izin tersebut diumumkan Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif negeri Gajah Putih.

Dilansir The Bangkok Post, keputusan pemerintah itu sebagai tindak lanjut legalisasi ganja untuk pengobatan pada 2019 lalu. Kini, harapannya masing-masing wilayah bisa menyediakan penawar bagi penyakit-penyakit tertentu yang diderita oleh masyarakat.

Baca Juga: Pengekstrak Ganja untuk Obati Orangtua di Makassar akan Jalani Sidang

1. Melibatkan pakar pengobatan khusus

Rumah Sakit di Thailand Diberi Izin Produksi Obat-obatan dari GanjaSuasana Bangkok International Motor Show ke-41 di Bangkok, Thailand, pada 14 Juli 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva

Kepala Departemen Pengobatan Tradisional dan Alternatif Thailand, Direktur Jenderal Marut Jirasetthasiri, mengatakan, rumah sakit boleh membuat obat tradisional dari 16 resep yang diizinkan oleh pemerintah. Salah satunya adalah yang menggunakan ganja.

Apabila rumah sakit merasa obat tersebut bisa menyembuhkan penyakit di area mereka berada, maka pembuatan obat bisa segera dilakukan. Namun, dalam proses produksi, harus ada pakar pengobatan tradisional Thailand yang dilibatkan agar tidak terjadi kesalahan. 

2. Pada 2020, sebanyak 60.000 tahap pengobatan berbasis ganja telah dilakukan

Rumah Sakit di Thailand Diberi Izin Produksi Obat-obatan dari GanjaPolisi amankan tanaman ganja di Bandung. (IDN Times/Bagus F)

Data pemerintah memperlihatkan ada peningkatan minat warga terhadap obat-obatan dengan bahan ganja. Oleh karena itu, ada total 291 unit penjualan obat dengan campuran ganja di rumah sakit pemerintah di seluruh wilayah Thailand. 

Lalu, ada lebih dari 60.000 tahap pengobatan yang telah diberikan pada pasien hanya dalam 2020 saja. Dengan fakta ganja untuk medis semakin populer, Marut mengungkapkan, departemennya mengizinkan 152 rumah sakit untuk memperluas perkebunan ganja mereka.

3. Pemain bisnis asing tertarik pada legalisasi ganja di dunia medis

Rumah Sakit di Thailand Diberi Izin Produksi Obat-obatan dari GanjaPenumpang di Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok saat terjadi penyebaran virus corona, Thailand, pada 6 April 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silva

Sementara ganja boleh dipakai sebagai obat, pemerintah tetap mengharamkannya untuk konsumsi rekreasional. Ancaman hukuman penjara masih membayangi siapa pun yang ditemukan merokok ganja.

Seperti gula, industri baru tersebut akhirnya menarik semut-semut dari tempat lain. Asia Times melaporkan, sejak legalisasi dilakukan, banyak investor asing yang berdatangan ke Thailand untuk mencari untung.

Misalnya, para pengusaha ganja dari Belanda berada di garis terdepan untuk memasok bibit tanaman itu ke Thailand. Apalagi, Belanda itu sudah sejak lama melegalkan ganja untuk berbagai kebutuhan sehingga Pemerintah Thailand percaya pada keahlian mereka.

Pemain lain adalah warga Amerika Serikat bernama Dave Rockwood. Datang jauh-jauh dari Utah, ia menawarkan jasa perangkat lunak dan pantauan satelit kepada para petani ganja di Thailand.

Ia mengatakan, apa yang ditawarkannya bisa membuat mereka menemukan lokasi yang cocok dengan mengevaluasi lahan dan kondisi cuaca. Selain itu, Rockwood mengatakan, petani ganja bisa mengawasi pertumbuhan tanaman dan memprediksi kapan masa panen datang. 

Baca Juga: Kisah RZ, Obati Ayahnya dengan Ekstrak Daun Ganja Berakhir di BNN

Topic:

  • Irwan Idris

Berita Terkini Lainnya