Comscore Tracker

6 Fakta Virus Corona Varian Delta yang Lebih Cepat Menular

Varian Delta terbukti menggandakan diri lebih cepat

Virus corona varian Delta (B.1.617.2) kini merajalela di mana-mana. Laporan Covid Data Tracker dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menunjukkan bahwa per 26 Juli 2021, varian Delta terkonfirmasi di 105 negara, termasuk Indonesia.

Jenis virus SARS-CoV-2 terbaru ini jadi perhatian utama para iluwan, sebab diketahui sangat cepat menular, sejak pertama kali diidentifikasi di India pada bulan Desember 2020.

Berikut ini sejumlah fakta tentang virus corona varian Delta yang layak diketahui, termasuk mengapa ia sangat menular.

1. Varian Delta menyebar dan menular lebih cepat

6 Fakta Virus Corona Varian Delta yang Lebih Cepat Menularilustrasi pandemik (ANTARA FOTO/REUTERS/Eloisa Lopez)

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus corona varian delta sebagai "yang tercepat dan yang terkuat". Laporan sebuah studi dari Inggris menunjukkan varian Delta antara 40-60 persen lebih mudah menular dibanding varian Alpha (B.1.1.7. Padahal varial Alpha sudah 50 persen lebih menular daripada jenis virus asli yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China.

Dengan cepat, Delta mendominasi varian virus corona yang beredar di Inggris dan memicu lonjakan kasus di sana, meski tingkat vaksinasi cukup tinggi.

Menurut sebuah studi pracetak (belum menjalani peer review), varian Delta dan Gamma (P.1) yang pertama kali diidentifikasi di Brasil, dengan cepat menggantikan Alpha, yang sebelumnya menjadi varian paling umum di Amerika Serikat (AS). Pada 30 Juni, perkiraan menunjukkan bahwa varian Delta sekarang menjadi varian dominan di AS.

2. Sebuah penelitian mencari tahu alasan kenapa varian Delta sangat menular

6 Fakta Virus Corona Varian Delta yang Lebih Cepat MenularSeorang pasien COVID-19 meletakkan kedua tangan di kepalanya (ANTARA FOTO/REUTERS/Baz Ratner)

Sekelompok peneliti di Tiongkok tengah mempelajari bagaimana varian Delta menyebar dari transmisi lokal pertama yang diidentifikasi pada 21 Mei 2021. Hasil studi pracetak diterbitkan pada 7 Juli 2021.

Peneliti dari Guangdong, China, dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit lokal lainnya mengawasi mereka yang terinfeksi varian Delta dan kontak dekat mereka di China. Para kontak dekat dari orang terinfeksi diisolasi dan di tes PCR COVID-19 setiap hari. Dan dari sana petugas mengidentifikasi 167 infeksi lokal yang ditelusuri kembali ke kasus indeks asli.

Mereka membandingkan data dari orang-orang tersebut dengan data dari hari-hari awal pandemi, ketika varian awal SARS-CoV-2 menyebar di Tiongkok. Hasilnya ditemukan bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan dari paparan seseorang terhadap virus asli hingga tes positif pada tes PCR adalah 5,61 hari untuk virus asli dan 3,71 hari untuk varian Delta.

Aspek paling "mencolok" dari laporan ini adalah bahwa dibutuhkan waktu yang jauh lebih singkat dari waktu seseorang terpapar varian Delta hingga menunjukkan tingkat virus yang signifikan, kata John Connor kepada Live Science, seorang peneliti dari Boston University's National Emerging Infectious Diseases Laboratories, AS, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Dengan kata lain, pelacakan kontak atau tracing harus bekerja lebih cepat untuk menghentikan orang-orang dari menularkan varian Delta.

Baca Juga: Respons Antibodi Vaksin Sinopharm Lebih Lemah terhadap Varian Delta?

3. Ada beberapa indikasi bahwa varian Delta juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah

6 Fakta Virus Corona Varian Delta yang Lebih Cepat MenularIlustrasi petugas medis melakukan perawatan terhadap pasien terinfeksi virus corona (COVID-19) di instalasi khusus. ANTARA FOTO/REUTERS/Ronen Zvulun

Menurut studi di Skotlandia yangberjudul "SARS-CoV-2 Delta VOC in Scotland: demographics, risk of hospital admission, and vaccine effectiveness", ditemukan tingkat rawat inap pasien dengan varian Delta yang lebih tinggi daripada pasien dengan varian Alpha.

Tapi karena jeda waktu antara rawat inap dan kematian, tidak ada cukup data untuk mengatakan apakah varian Delta lebih mematikan daripada varian lainnya. 

Aziz Sheikh, seorang profesor perawatan primer di University of Edinburgh, Skotlandia, dan penulis utama studi mengatakan bahwa mereka kembali berada dalam fase pertumbuhan kasus yang eksponensial. 

4. Orang-orang yang tidak atau belum divaksinasi berisiko

6 Fakta Virus Corona Varian Delta yang Lebih Cepat MenularPara siswa memakai masker pelindung saat mengikuti pelajaran pada permulaan tahun ajaran baru ditengah kekhawatiran atas penyebaran virus corona (COVID-19), di Damaskus, Suriah, Minggu (13/9/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Yamam Al Shaar)

Dilansir Yale Medicine, orang-orang yang belum sepenuhnya divaksinasi terhadap COVID-19 paling berisiko.

Sebagai contoh, di AS, ada jumlah yang tidak proporsional dari orang yang tidak divaksinasi di negara bagian Selatan dan Appalachian, termasuk Alabama, Akansas, Georgia, Mississippi, Missouri, dan West Virginia, di mana tingkat vaksinasi rendah (di beberapa negara bagian ini, jumlah kasus meningkat bahkan ketika beberapa negara bagian lain mencabut pembatasan sosial karena angka kasusnya yang menurun.

Anak-anak dan remaja juga menjadi perhatian. Sebuah penelitian baru-baru ini dari Inggris menunjukkan bahwa anak-anak dan orang dewasa di bawah 50 tahun 2,5 kali lebih mungkin terinfeksi varian Delta. Dan sejauh ini, tidak ada vaksin yang disetujui untuk anak-anak berusia 5 hingga 12 tahun di AS, meskipun AS dan sejumlah negara lain telah mengizinkan vaksin untuk remaja dan anak kecil atau sedang mempertimbangkannya.

Ketika kelompok usia yang lebih tua divaksinasi, mereka yang lebih muda dan tidak divaksinasi akan berisiko tinggi terkena COVID-19 dengan varian apa pun," kata Inci Yildirim, MD, PhD, spesialis penyakit menular pediatrik Yale Medicine dan ahli vaksin. "Tapi Delta tampaknya berdampak pada kelompok usia yang lebih muda lebih dari varian sebelumnya."

5. Apakah vaksinasi bisa melindungi kita dari varian Delta?

6 Fakta Virus Corona Varian Delta yang Lebih Cepat Menularilustrasi vaksinasi COVID-19 (ANTARA FOTO/Jojon)

Kepala ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan, mengatakan kalau tujuan utama dari vaksin adalah untuk mencegah penyakit yang parah, karena yang diinginkan adalah orang-orang, bahkan jika mereka terinfeksi, untuk bisa sembuh dan tidak sakit parah. Jadi, itu adalah sesuai yang dilakukan dengan sangat baik oleh semua vaksin yang ada.

"Tentu saja ada tingkat yang berbeda. Kita sudah membaca mengenai uji coba kemanjuran (efikasi). Mereka dapat berkisar dari 70-90 persen. Namun, dalam hal hanya melihat pencegahan penyakit parah dan rawat inap, semuanya sangat baik, lebih dari 90 persen efektif," mengutip laman WHO.

Soumya juga mengatakan kalau tiap vaksin berbeda dalam perlindungan terhadap infeksi. Idealnya, kita ingin mendapatkan vaksin yang benar-benar mencegah infeksi sehingga kita tidak akan sakit.

"Namun, tidak ada vaksin yang kami miliki saat ini yang 100 persen protektif," katanya. Jadi, inilah kenapa jika kita sudah divaksinasi, kita tetap bisa terinfeksi, tetapi kemungkinan gejala yang dialami sangat ringan atau tidak ada gejala sama sekali, dan kemungkinan sakit parah sangat rendah.

Lantas, jika yang sudah divaksinasi lengkap masih bisa terinfeksi dan menginfeksi orang lain setelah dosis lengkap, kenapa vaksinasi tetap penting?

Soumya mengatakan ada dua alasan untuk segera mendapatkan vaksinasi. Yang pertama adalah melindungi diri dari sakit parah jika kita sampai terkena infeksi.

"Kita tahu bahwa ada proporsi tertentu dari orang-orang dari semua kelompok umur yang sakit parah dan kamu bisa memiliki kesempatan untuk meninggal karena penyakit ini. Inilah yang ingin kita lindungi," kata Soumya.

Meski sudah divaksinasi, Soumya mengatakan kalau infeksi tetap bisa terjadi karena vaksin tidak memberikan perlindungan 100 persen dari infeksi, jadi memang ada risiko kecil mereka terinfeksi dan menularkannya ke orang lain.

Jadi, kenapa mesti harus divaksinasi bila risiko infeksi dan menularkan tetap ada? Soumya mengatakan, yang kita perlu lakukan di dunia ini sekarang adalah memutus rantai penularan, untuk mengendalikan penyakit ini. Inilah kenapa WHO sangat menganjurkan untuk mendapat vaksinasi segera bila ada akses terhadap vaksin, serta terus melanjutkan tindakan pencegahan sehingga kita benar-benar melindungi diri sendiri dan orang lain di sekitar kita.

6. Apa saja gejala varian Delta?

6 Fakta Virus Corona Varian Delta yang Lebih Cepat Menularilustrasi batuk (freepik.com/jcomp)

Dilansir WebMD, gejala-gejala dari varian Delta mirip dengan strain asli virus corona dan varian lainnya, termasuk batuk terus-menerus, sakit kepala, demam, dan sakit tenggorokan.

Pada saat yang sama, pasien COVID-19 di Inggris telah melaporkan bahwa beberapa gejala sedikit berbeda untuk varian Delta, menurut data dari ZOE COVID Symptom Study. Batuk dan kehilangan penciuman tampaknya kurang umum. Sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, dan demam tampaknya lebih umum.

Itulah fakta seputar varian Delta yang penting untuk diketahui, termasuk kemungkinan kenapa varian ini lebih cepat menyebar dan menular.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, vaksinasi tetap dianjurkan untuk melindungi diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Bila kamu sudah mendapat giliran untuk vaksinasi, jangan menundanya. Selain itu, jangan lupa untuk terus disiplin melakukan protokol kesehatan agar perlindungannya optimal.

Baca Juga: Vaksin Sinovac dan Sinopharm Ampuh Lawan Varian Delta? Ini Kata Ahli

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya