Comscore Tracker

Riset: Virus Corona Bertahan pada Anak Berminggu-minggu

Virus terdeteksi selama 14 hari pada anak tak bergejala

Riset terbaru di Korea Selatan mengungkap kabar mengejutkan seputar COVID-19. Pada studi yang terbit di jurnal  "JAMA Pediatrics", ditemukan materi virus corona SARS-CoV-2 bertahan pada anak-anak selama 17,6 hari. Virus terdeteksi selama 14 hari pada anak-anak tak bergejala.

Studi yang dipublikasikan di jurnal "JAMA Pediatrics", pada 28 Agustus lalu melibatkan 91 anak-anak yang terdiagnosis COVID-19 di Korea Selatan pada periode 18 Februari hingga 31 Maret 2020. Dari 91 anak, sebanyak 20 di antaranya tidak menunjukkan gejala. Sedangkan 71 sisanya menunjukkan gejala seperti demam, batuk, diare, sakit perut, hingga kehilangan indra penciuman atau perasa.

Seperti apa hasil studi tersebut? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Virus ini ditemukan di hidung dan tenggorokan selama berminggu-minggu

Riset: Virus Corona Bertahan pada Anak Berminggu-mingguasia.nikkei.com

Menurut studi itu , anak-anak yang menunjukkan gejala mengalami demam, batuk, diare, sakit perut, hingga kehilangan indra penciuman atau perasa. Durasinya variatif, antara 1-36 hari.

Dr. Roberta DeBiasi dan dr. Meghan Delaney dari Rumah Sakit Nasional Anak di Washington DC, Amerika Serikat (AS), mengatakan, anak-anak dengan dampak ringan dan sedang tetap bergejala dalam jangka waktu yang lama.

Studi yang sama mengungkap bahwa materi genetik virus terdeteksi pada anak-anak selama rata-rata 17,6 hari. Adapun pada anak-anak yang tidak bergejala, virus terdeteksi selama rata-rata 14 hari. Virus ditemukan bertahan di hidung dan tenggorokan berminggu-minggu meski mereka tak menunjukkan gejala apa pun.

2. Meski tak bergejala, tetap perlu dites untuk pelacakan kontak

Riset: Virus Corona Bertahan pada Anak Berminggu-mingguspectrumnews.org

Dalam penelitian ini, diperkirakan bahwa 85 anak yang terinfeksi (93 persen) terlewatkan karena pengujian difokuskan untuk pasien bergejala saja. Studi ini keluar saat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengubah pedoman yang mengatakan bahwa orang tanpa gejala mungkin tidak perlu dites.

Langkah ini mendapat kecaman keras dari American Academy of Pediatrics (AAP) dan dianggap sebagai langkah mundur yang berbahaya. Sebab, orang tanpa gejala mungkin menjalin kontak dekat dengan seseorang yang diketahui memiliki virus. Dilansir CNN, pelacakan kontak adalah strategi kunci untuk mengurangi penyebaran virus.

Menurut dr. Sally Goza, Presiden AAP, anak-anak sering kali menunjukkan sedikit atau tidak ada sama sekali gejala COVID-19. Bukan berarti mereka kebal dengan virus, justru sebagian dari mereka sakitnya sangat parah.

"Menguji individu yang terpapar yang mungkin belum menunjukkan gejala COVID-19 sangat penting untuk dilakukan. Pelacakan kontak akan membantu mengidentifikasi dan melindungi orang lain yang berisiko terinfeksi," tegas dr. Sally.

Baca Juga: Tantangan yang Dihadapi Indonesia untuk Mengakhiri Pandemi COVID-19

3. Indonesia adalah negara dengan case fatality rate tertinggi pada anak di kawasan Asia Pasifik

Riset: Virus Corona Bertahan pada Anak Berminggu-mingguReuters/Willy Kurniawan

Bagaimana dengan anak-anak di Indonesia? Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menunjukkan negara ini mencatatkan case fatality rate (CFR) tertinggi pada anak akibat COVID-19 di kawasan Asia Pasifik.

CFR pada usia 0-18 tahun per tanggal 16 Agustus adalah 1,1 persen, lebih tinggi dari Tiongkok (<0,1 persen), Italia (<0,1 persen), dan Amerika Serikat (<0,1 persen). Bahkan, angka kematian anak akibat COVID-19 di Eropa adalah 0,03 persen, jauh di bawah Indonesia.

Sementara, proporsi angka kejadian COVID-19 pada anak di Indonesia adalah 9,1 persen. Bandingkan dengan Selandia Baru (10-19 tahun) yang hanya 8 persen, Amerika Serikat 5 persen, Australia (10-19 tahun) 3 persen, Selandia Baru (0-9 tahun) 2 persen, Italia (1,2 persen), Australia (0-9 tahun) 1 persen, dan Tiongkok 0,9 persen.

4. Inilah rekomendasi IDAI untuk mencegah infeksi COVID-19 pada anak!

Riset: Virus Corona Bertahan pada Anak Berminggu-minggunortonhealthcare.com

Mempertimbangkan tingginya angka infeksi dan kematian akibat COVID-19 pada anak maupun dewasa, IDAI merekomendasikan untuk menunda proses belajar mengajar tatap muka di sekolah.

Lalu, jika dalam keadaan mendesak terpaksa harus keluar rumah, IDAI menganjurkan penggunaan masker dan face shield pada anak usia 2 tahun ke atas, kecuali jika ada masalah medis yang menghalangi anak untuk pakai masker seperti penyakit jantung dan paru kronis, serta gangguan mental dan kognisi.

Untuk anak di bawah 2 tahun, hindari penggunaan masker dan lebih disarankan memakai face shield, itu pun harus dengan pengawasan ketat orang tua atau pengasuh.

Orang tua juga harus mengimbau supaya anak menjaga jarak fisik sejauh 2 meter dengan orang lain, mencuci tangan sesering mungkin, menghindari memegang mulut, mata, dan hidung, menjauhi orang yang sakit, serta tetap di rumah untuk mencegah paparan infeksi.

Baca Juga: Whole Genome Sequencing, Kunci Penanganan Pandemik COVID-19

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya