Comscore Tracker

Berkaca dari Wabah Lalu, Begini Gambaran Akhir Pandemik COVID-19

Bakal jadi herd immunity kayak masa flu Spanyol?

Penyakit COVID-19 yang disebabkan virus corona strain baru bermula di Wuhan, Tiongkok, dan merebak ke seluruh dunia. Virus yang menyebabkan pandemik kemungkinan besar dibawa oleh hewan hingga menginfeksi manusia.

Yang masih jadi spekulasi adalah bagaimana akhir pandemik COVID-19, serta sampai kapan terjadi. Tapi secara umum, diprediksi bahwa akhir pandemik sepertinya tidak akan jauh berbeda dengan peristiwa yang hampir serupa di masa lalu. Berikut gambarannya.

1. Berkaca dari flu babi, pandemik menjadi endemik dan penyakit musiman

Berkaca dari Wabah Lalu, Begini Gambaran Akhir Pandemik COVID-19globaltimes.cn

Flu babi yang disebabkan virus H1N1 pada 1918-191 adalah pandemik pertama yang dijadikan pelajaran, dilansir ABC News. Saat itu masyarakat tidak siap menghadapinya. Makanya, dalam waktu 2-3 tahun, flu babi dilaporkan menginfeksi sekitar 500 juta orang dan membunuh sedikitnya 50 juta orang.

Pada akhirnya, virus melemah dan hidup di tengah masyarakat. Pada tahun-tahun berikutnya, flu babi jadi endemik, yakni wabah yang menyerang wilayah tertentu dalam satu waktu. Korbannya pun tidak sebanyak di masa awal.

Puluhan tahun berselang, flu babi berubah dan jadi penyakit musiman. Penyakit tersebut hanya muncul di waktu dan wilayah tertentu. Dikutip Scientific American, virus H1N1 disebut hampir habis karena digantikan oleh H2N2 di tahun 1957. Salah satu sifat virus adalah ketika muncul strain baru, strain yang lama melemah perlahan.

2. Wabah ini bisa berakhir dengan karantina, seperti kasus SARS

Berkaca dari Wabah Lalu, Begini Gambaran Akhir Pandemik COVID-19businessday.ng

SARS merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona, tapi dengan jenis berbeda. Tak seperti COVID-19, SARS cenderung lebih sulit menular. Virus itu baru bisa menyebar saat pasien memasuki kondisi yang parah. 

Saat wabah SARS, negara-negara yang terdampak memberlakukan karantina ketat bagi pasien. Pasien diharuskan tetap di rumah sakit sampai dinyatakan benar-benar sembuh.

Itu dua faktor mengapa jumlah korban SARS tidak sebanyak COVID-19, meski virus penyebabnya mirip. Kondisi terparah cuma terjadi di wilayah Asia Timur dan Toronto, Kanada.

Baca Juga: Mengenal Happy Hypoxia, Gejala Tak Biasa COVID-19 yang Ancam Nyawa

3. Mungkin saja tebentuk herd immunity seperti di masa flu Spanyol

Berkaca dari Wabah Lalu, Begini Gambaran Akhir Pandemik COVID-19wikimedia.org

Salah satu pandemik terbesar di dunia adalah flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918. Diperkirakan 500 juta orang terinfeksi dan 50 juta di antaranya meninggal dunia. Setidaknya sepertiga populasi dunia tertular penyakit tersebut. 

Lebih buruknya lagi, pada tahun 1918, tidak ada vaksin yang berhasil digarap untuk menuntaskan pandemik ini. Virus terus hidup bersama manusia hingga tiga tahun berikutnya. 

Yang membuat pandemik ini mereda adalah terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok. Karena begitu banyaknya orang yang terinfeksi, tubuh penyintas pun membentuk imunitas, sehingga mereka tidak akan tertular oleh virus yang sama lagi. 

Virus yang tidak memiliki inang yang bisa diinfeksinya pun perlahan melemah. Flu Spanyol kemudian menjadi penyakit musiman hingga tahun 1958. Selama puluhan tahun itu, muncullah strain virus lain yang menggantikan keberadaannya. 

4. Vaksin diperlukan untuk bisa menghentikan penularan sepenuhnya

Berkaca dari Wabah Lalu, Begini Gambaran Akhir Pandemik COVID-19abc.net.au

Salah satu cara untuk sepenuhnya terbebas dari pandemik adalah vaksin. Metode penguat imunitas tubuh inilah yang akhirnya bisa mengendalikan pandemik flu babi yang terjadi lagi di tahun 2009. 

Dilansir Scientific American, saat itu para ahli berhasil menemukan vaksin hanya dalam waktu enam bulan. Sebab, virus ini sudah pernah menginfeksi puluhan tahun sebelumnya. 

Saat ini pun vaksin COVID-19 sedang gencar dibuat di berbagai belahan dunia. Namun, tentu saja pengembangannya butuh waktu yang tidak sebentar. Terlebih, virus sejenis flu seperti SARS-CoV-2 bermutasi setiap hari, sehingga ilmuwan harus benar-benar teliti dan presisi saat membuat vaksin. 

5. Virus kemungkinan tetap hidup di antara manusia

Berkaca dari Wabah Lalu, Begini Gambaran Akhir Pandemik COVID-19theatlantic.com

Apa yang terjadi setelah vaksin berhasil dibuat? Laju penularan tentunya akan menurun. Namun, virus kemungkinan besar tetap hidup di antara manusia. Ketika situasi dunia mulai membaik, status pandemik mungkin saja dicabut dan diubah menjadi endemik atau penyakit musiman, seperti kasus terdahulu. 

Prediksi mengenai akhir pandemik COVID-19 masih bersifat spekulatif. Namun, berbagai sumber menyatakan bahwa kemungkinan besar yang akan terjadi adalah gabungan dari apa yang terjadi di pandemik terdahulu. 

Hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjaga diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Hindari keluar rumah tanpa alasan yang penting, liburan untuk bersenang-senang, dan pergi ke tempat-tempat ramai. Jangan lupa juga untuk selalu mengenakan masker dan menjaga kebersihan diri.

Jika semua orang menaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan, maka laju penularan bisa diturunkan. Perlahan dan dibarengi protokol yang ketat, aktivitas bisa kembali berjalan normal, cepat atau lambat.

Baca Juga: Apa Jadinya Jika Vaksin COVID-19 Tak Ditemukan? Ini 7 Gambarannya!

Topic:

  • Aan Pranata

Berita Terkini Lainnya